Menulis atau Tidak Sama Sekali

Kalau melihat gelagat dari judulnya kok rasanya sombong sekali. Tetapi bukan itu juga sebenarnya maksud saya, ini lebih semacam niat. Seno Gumira Ajidarma pernah bilang dalam salah satu bukunya ketika ditanya bagaimana resepnya untuk bisa terus menulis berbagai macam cerpen yang hebat seperti itu beliau hanya menjawab,

“Boleh bisa apa saja termasuk menulis, boleh tidak bisa apa saja kecuali menulis.”

Dari situ rasanya pertanyaan yang diharapan mendapatkan jawaban yang melulu teknis dan penuh penghayatan akan bagaimana menulis yang baik dan terus menerus, rasanya luruh begitu saja. Seorang penulis besar dan salah satu sastrawan yang saya kagumi hanya menganggap bahwa tidak ada itu yang namanya resep sukses selain daripada melakukan hal itu terus menerus tanpa kecuali.  Karena kadang kita sebagai penulis kelas teri, berusaha menganggap bahwa para penulis hebat dan sastrawan lokal maupun internasional di jaman dulu tentu melakukan suatu hal yang luar biasa sehingga karyanya diakui di mana-mana. Kadang juga kita mungkin terlalu besar menganggap orang tersebut sehingga merendahkan diri kita sedalam mungkin untuk sekadar berharap bahwa kita pun juga bisa menghasilkan karya yang sama bagusnya atau lebih bagus dari mereka.

Sampai di sini, di mana kita berpikir tentang diri dan karya yang sudah kita hasikan selama ini?

Perjalanan seorang penulis dalam menghasilkan karya-karya yang luar biasa diakui di masanya memang berbeda-beda. Setiap orang punya ceritanya masing-masing dan gaya yang menjadi ciri khasnya. Sekarang persoalannya di mana kita bisa menemukan gaya dan ceritanya kita tersebut untuk kemudian disampaikan dalam berbagai cara yang kita pikir mampu? Kalo saya tentu ya hanya dengan menulis. Saya sendiri pernah mengalami di mana merasakan sekali kesenangan menulis dan bercerita macam-macam yang kadang kalo dipikir lagi, itu bukan cerita yang ingin saya sampaikan pada dunia. Mungkin lebih semacam saluran untuk mengasah bagaimana saya bercerita dalam tulisan. Saya menceritakan hal-hal kecil yang kemudian saya bermain dalam metafora di sana-sini dan bermain sesuatu yang sureal. Masa di mana setiap ide bisa diasah sedemikian rupa dan menghasilkan sesuatu yang saya inginkan. Dari situ saya bisa belajar lebih jauh memang, karena saya percaya momentum harus selalu diciptakan. Beberapa tahun belakangan ini saya malasa sekali untuk menulis, kesibukan mencari penghidupan yang lebih baik memenuhi jam-jam saya dan menulis rasanya menjadi sesuatu yang mewah untuk dilakukan. Sekarang semangat untuk kembali menulis kembali muncul di awal tahun. Membiasakan diri menulis dan bercerita apa saja menjadi bahan bakar awalnya. Saya ingin bisa menulis cerita pendek yang banyak lagi mengingat kini cerita pendek yang pernah saya buat hilang entah ke mana dan belum bisa diselamatkan.

Dan lantas kalo berpikir lebih jauh tentang menulis dan apa yang ingin kita sampaikan. Rasanya mengembalikan segala hal pada intinya yang sederhana menjadi terasa mudah. Kalo ingin menulis ya lakukan saja, tidak ada alasan lain untuk itu. Jika memang ada alasan lain artinya kita memang sedang tidak ingin betul menulis. Saya ingin menjadikan tulisan-tulisan saya sebagai sesuatu yang ingin saya wariskan ke pada orang banyak. Saya ingin dikenal melalui tulisan saya. Dan perasaan emosi semacam ini yang kadang mendorong saya untuk terus menulis sekarang meski belum menemukan momentumnya yang pas. Saya dibesarkan oleh seorang ayah yang wartawan senior, beliau menghabiskan separuh hidupnya bekerja sebagai buruh tinta dan saya ingat betapa saya dulu bangga beliau melakukan hal itu. Saya bangga bahwa dulu saya pernah bercita-cita untuk juga mengikuti jejaknya menjadi wartawan dan sesungguhnya saya pernah juga mencobanya. Jadi saya berpikir hanya dengan menulislah kita bisa dikenang dengan lebih baik. Ada karya yang akan dibaca orang jika kelak karya itu benar-benar disebar luaskan. Sesuatu yang sentimentil bukan?

Jadi kembali pada judul tulisan itu kembali, saya bilang bahwa ini adalah semacam niat yang saya ikrarkan pada diri saya sendiri. Berusaha mengingatkan diri saya bahwa tidak ada alasan lagi untuk menulis selain segera melakukannya. Dan saya selalu ingat kata SGA di awal tadi, saya harus bisa menulis dengan baik, itu saja. Kalau tidak, lebih baik tidak usah sama sekali.

Advertisements

Major atau Indie

Apa yang terbesit di pikiranmu jika mendengar kedua kata tersebut? Kali ini saya akan membahas sesuatu yang secara spesifik saya senangi, yaitu menulis dan dunia penerbitan yang kemudian kita bisa membaginya ke dalam dua konsep tadi. Saat ini di tengah semakin majunya dunia teknologi, semakin berkembanglah dunia teknologi dalam urusan cetak mencetak buku. Pekerjaan menghasilkan sebuah buku memang dimulai dari menuliskan serangkaian kata menjadi cerita atau berbagai langkah-langkah yang praktis dalam menyusun sebuah karya non fiksi misalnya. Dan ketika sebuah naskah sudah dianggap selesai, kita bisa membuatnya menjadi buku.

Saya pernah mendengar bahwa alasan sebuah penerbitan bisa terus berjalan adalah dengan adanya penulis produktif yang juga menghasilkan sebuah karya bagus. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan karya yang dihasilkan oleh penulis, sebuah buku bisa dicetak dengan menarik, dan di sinilah kerja penerbitan. Melihat semakin menjamurnya penerbitan indie di Indonesia saat ini, penerbit major rasa-rasanya mendapatkan pesaingnya yang benar-benar sepadan. Berkaitan dengan mudahnya akses untuk menjangkau teknologi cetak offset dan digital printing, kini mencetak buku bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik para penerbit major. Penerbit indie dengan semangat mengusung idealisme yang tentu saja berbeda satu-dua hal dengan penerbit major menawarkan hal yang segar kepada pembaca kita dewasa ini.

Lantas apa yang membedakan kedua konsep tadi sekarang? Jika kita teliti lebih dalam saya rasa konsep major dan indie saat ini juga sudah tidak berbeda sama sekali. Karena keduanya melalui proses naskah yang sama hanya saja dalam penerbitan indie, porsi keikutsertaan penulis menjadi sesuatu yang penting. Penulis tidak hanya bertugas menulis dan menghasilkan karya tetapi juga perlahan mulai dikenalkan dengan apa-apa saja yang perlu dia ketahui untuk menjual karyanya. Dalam lingkaran yang paling kecil, penulis tentu ingin karyanya dibaca dan keluarga, teman menjadi sasaran pembaca yang paing pertama bisa kita sodorkan buku itu. Dalam hal apakah karya tulis itu menarik bagi pembaca secara luas saya rasa baik penerbit major atau indie mendapatkan perlakuan yang sama. Sebuah penerbitan indie juga mengalami siklus buku yang bisa laku terus dan cetak ulang berkali-kali atau bahkan menghasilkan buku yang menjual 100 eksemplar saja sulit sekali atau memakan waktu yang lama. Tidak semua buku indie jelek dan tidak semua buku major juga bagus. Saya rasa keduanya mengalami nasib yang sama. Beberapa penulis yang sudah mapan juga memilih mencetak melalui penerbitan indie dengan alasannya masing-masing. Tetapi ada juga penulis yang tidak bosan menulis dan mengirimkan naskahnya hingga bisa diterbitkan oleh penerbit major. Memperhitungkan jangkauan distribusi yang luas tentu menjadi salah satu daya tarik mengapa penerbit major lebih disukai dibandingkan dengan penerbit indie.

Kita bisa melihat bagaimana di Jogjakarta muncul penerbit-penerbit indie dengan semangat yang sama untuk memajukan literasi bangsanya menjadi sebuah gerakan yang bukan main-main. Buku-buku terbitannya pun tidak kalah menarik dengan buku dari penerbit major. Baik dari segi isi buku, cover dan bahkan distribusi mereka yang saat ini juga sudah merambha toko-toko buku besar. Tetapi untuk menyikapi hal terakhir ini saya rasa bukan menjadi persoalan yang terlalu krusial. Penjualan offline melalui toko-toko buku besar dengan jaringan luas di Indonesia saat ini menjadi salah satu pilihan saja dalam mendistribusikan sebuah buku.

Tidak kalah dalam hal itu, penerbitan indie juga mengakomodir penjualan online melalui kanal-kanal toko buku online yang secara jangkauan juga berada di mana-mana di kota besar di Indonesia. Bukankah dengan begini hal dalam penjualan dan distribusi bukan menjadi soal lagi? Saya pernah mendengar seorang berkata bahwa saat ini yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi dalam menciptakan sebuah karya. Sebuah karya seperti buku bukan saja kerja seorang penulis saja di jaman yang serba cepat seperti sekarang. Kerja kolaborasi dari berbagai pihak bisa menjadi sesuatu yang penting dan menarik untuk diperhatikan gerakannya dalam mengembangkan sebuah karya.

Kalau sudah begini, mungkin rasanya yang paling tepat untuk dilakukan dengan segera mungkin adalah bagaimana kita menghasilkan sebuah karya apapun sebanyak-banyaknya bukan? Karena selalu percaya seperti kata seorang CEO penerbit major yang saya kenal, buku yang bagus akan menemukan pembacanya masing-masing.

Jadi mana bukumu?

 

Bandung dan Dunia Literasinya

Saya selalu iri sekaligus bangga dengan lingkungan literasi yang semakin hari semakin tumbuh di Yogyakarta saat ini. Bagaimana tidak, semua tentang buku dan berbagai event digelar dari yang berbayar hingga yang gratis. Tetapi dengan gratis tentu saja tidak berarti acara yang digelar tidak bermutu. Justru banyak event buku atau bedah buku digelar secara gratis sekaligus bermutu tinggi.  Tapi tunggu, kenapa saya memulai tulisan ini dengan semua yang terjadi dalam dunia literasi Yogyakarta ya? Karena bisa jadi dalam hal itulah Bandung belum bisa menyamai pencapaian Yogyakarta dalam menggelar berbagai event atau menggerakkan komunitas literasinya.

Saya menulis ini tentu tidak untuk membanding-bandingkan lingkungan literasi yang ada di dua kota tersebut. Karena sejujurnya, siapalah saya yang dengan serta merta berusaha menilai kancah literasi dua kota besar itu. Yang menjadi menarik juga adalah bahwa komunitas yang ada di Bandung sebenarnya tidak sedikit, bahkan bisa dibilang banyak dan perlahan tapi pasti juga sedang menapakkan kakinya di dunia literasi bangsa kita. Tak perlulah menyebutkan secara spesifik beberapa komunitas yang tentu teman-teman sekalian sudah pernah datangi beberapa tahun belakangan ini. Semuanya saya rasa menarik dan patut untuk diapresiasi.

Dalam hal kaitannya dengan dukungan pemerintah, sudah ada bentuk konkret dari pemerintah kota Bandung untuk membuat sebuah perpustakaan kecil terletak di Lapangan Gasibu yang sudah tentu menjadi barang baru selama beberapa tahun terakhir ini di lapangan yang selalu menjadi tempat berkumpul anak muda tersebut. Dengar-dengar sebuah perpustakaan yang tak kalah besar juga sudah disiapkan di Alun-alun Bandung yang menjadi kebanggaan kota Bandung saat ini. Hal-hal ini tentu saja menjadi semacam dorongan bagi penggerak literasi di Kota Kembang dalam mengembangkan literasi di kotanya. Tentu saja  dengan adanya perpustakaan tidak serta merta membuat orang-orang berdatangan ke sana dan membaca buku. Harus ada sebuah langkah konkret yang dibuat oleh pemerintah untuk hal itu.

Kemudian muncullah wadah independen dari beberapa komunitas di Bandung yang menggelar berbagai event buku. Akhir tahun 2016 kemarin kita bisa melihat adanya sebuah event literasi yang jarang sekali kita bisa nikmati yang diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, di acara yang berlangsung selama satu minggu penuh itu, pengunjung bisa bertemu dengan berbagai penerbit yang entah mengapa saat itu di dominasi oleh penerbit bukan dari Bandung, juga beberapa lapak buku khusus yang menggelar buku-buku langka dan patut dikoleksi. Tak kalah dari itu, berbagai diskusi dan pembacaan karya juga memenuhi jam pagelaran literasi tersebut. Secara pribadi baru kali itu saya melihat sebuah event yang digagas dengan unik, secara mandiri bisa menghasilkan acara yang berbeda dari pameran buku pada umumnya. Saya pikir hal inilah yang perlu dilakukan lebih sering di kota Bandung tercinta ini.

Lapak buku baik online maupun offline juga banyak di Bandung, perpustakaan yang konsisten dengan tema dan koleksi bukunya yang ajaib juga bisa ditemukan di kota ini. Lantas mengapa saya bilang dunia literasi Bandung masih kalah dari Yogyakarta? Bagaimana dengan dunia penerbitan indienya? Dalam hal ini saya rasa menjadi hal yang esensial dalam mengembangkan kancah literasi kota ini. Jika melihat kota Yogya yang memiliki banyak sekali penerbitan indie, sekaligus memunculkan banyak penulis baru dengan berbagai gaya tulisan, semakin memperkaya dunia buku di kota tersebut. Belum lagi ditambah dengan buku-buku terjemahan yang kualitasnya tidak kakalh dengan penerbit major. Lantas mengapa hanya sedikit sekali penerbitan mandiri yang ada di kota ini?

Jika melihat apa yang dikatakan salah satu teman yang memiliki penerbitan indie di kota Yogya, (saya rasa juga tak perlulah menyebutkan namanya di sini) penerbitan indie Yogya marak kembali karena biasanya mereka berangkat dari penjualan buku secara online yang mereka rintis, dengan semakin berkembangnya buku-buku dari berbagai macam penulis tersebut, membuat toko online ini pun perlu punya produk sendiri yang mereka kelola dengan baik sehingga ketika ada masa di mana buku kelompok penerbit major sedang tidak ramai, mereka tetap punya lini penjualan yang bisa mereka kontrol dengan mendorong produk-produk buku mereka sendiri. Saya rasa inilah yang perlu kita contoh di Bandung. Toh saya rasa anak mudanya juga cukup banyak, tak perlu disangkal lagi iklim kreatifitas di kota ini tumbuh subur di berbagai lini seperti musik, seni dan budaya. Lantas mengapa tidak dengan dunia literasinya?

Awal tahun ini saya mengikuti sebuah gerakan #1minggu1cerita yang digagas oleh sejumlah teman yang ternyata sampai sekarangmasih giat untuk mengembangkan gerakan ini. Saya tak punya prentensi atau harapan apa-apa dengan mengikuti ini selain hanya untuk mendorong saya lebih giat menulis karena kok rasanya kemampuan saya menulis juga menurun seiring banyaknya kesibukan setiap hari. Saya selalu rindu menulis cerita, memberikan pendapat saya secara jujur kepada selembar kertas kosong, membagikannya kepada mereka yang mungkin juga senang membaca dan kemudian menularkan virus menulis yang dengan begitu harapannya semakin banyak orang yang menulis, entah itu menulis cerita pendek, novel, artikel, hingga kemudian ada sebuah penerbitan yang berani menerbitkan kumpulan tulisanmu menjadi sebuah buku dan karyamu bisa dibaca banyak orang secara luas.

Semoga ikhitiar kecil ini bisa berguna untuk orang banyak, mari mulai menulis #1minggu1cerita

Salam.

Di Balik Kampung Halaman

Saya lama berpikir tentang bagaimana menulis tentang kampung halaman atau seperti kebanyakan orang yang dengan mudah bisa bercerita banyak tentang berbagai macam hal di kampung halamannya. Saya menemukan bahwa saya sendiri sebenarnya tidak merasa punya kampung halaman. Jika yang dimaksud dengan kampung halaman adalah sebuah tempat di mana kita pulang ketika lebaran, berkumpul dengan semua sanak saudara di tempat kita pernah lahir dan tumbuh besar, saya merasa tidak punya tempat seperti itu.
Lantas kalo saya lebaran, mudik ke kampung mana? Nah kalo ini juga baru saya rasakan dua tahun terakhir di mana saya sudah beristri orang Magelang yang dari situ, saya jadi punya kewajiban untuk menemani istri pulang kampung ke Magelang, di Salaman tepatnya. Tetapi jauh sebelum itu, saya tidak merasa punya kampung halaman. Saya memang lahir dan besar di Jakarta, ibukota negara kita tercinta. Tapi kok rasanya juga pulang mudik ke Jakarta itu tidak menjadi salah satu agenda saya dan keluarga dulu ketika musim mudik tiba. Memang saya punya keluarga besar di sana, tetapi tidak semuanya di sana.

 

Saya sudah 12 tahun tinggal di Bandung dan selama sepuluh tahun saya mengalami lebaran pula di sini. Tidak ke mana-mana selain berkunjung ke keluarga besar di daerah Caringin. Keluarga ayah saya dari Padang, dan sebagaimana keluarga Padang lain, kami lebih memilih berlebaran di tanah rantau daripada di kampung halaman. Hampir sebagian besar keluarga besar ayah saya ada di Bandung dan di sinilah kami biasanya berlebaran.

 

Kalau membayangkan kampung halaman di mana daerah itu berarti kampung, desa atau tempat yang jauh dari kota, keluarga besar ayah saya punya hal itu. Kampungnya bernama Rao-rao, sebuah kota kecil di Payakumbuh, Sumatera Barat. Keluarga besar di sana masih memiliki sebuah rumah gadang yang entah sudah berapa lama bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Rumahnya terakhir kali kami ke sana, masih terlihat kokoh, ayah saya bilang kayunya dulu berasal dari pohon jati yang kokoh, di sebelah kanan bangunan rumah gadang ada lumbung padi tempat biasa dulu keluarga kami menimbun gabah. Ada batu besar di depan rumah tersebut yang dulu sering menjadi tempat saya dan adik-adik bermain dan memanjat batu tersebut sakin tingginya.

 

Rumah itu tidak ada kamar mandinya ketika itu, sehingga untuk urusan kamar mandi dibuatkan sebuah kamar mandi di luar bangunan yang berjarak tak jauh dari rumah. Sejauh yang saya ingat, air di sana sangat dingin, jam enam pagi masih serupa subuh, karena embun masih menyelimuti daerah tersebut. Sedikit sekali pengalaman saya tentang rumah tersebut, saya ingat wujudnya, kayunya, lantainya yang berderit ketika kita berjalan di dalamnya. Kata ayah saya, rumah itu memiliki 7 kamar yang bersekat-sekat. Menurut orang Padang, rumah itu diwarisi kepada anak perempuan dalam keluarga, karena di sana menganut budaya matrilinial. Anak wanita di sana mendapatkan hak waris lebih banyak dari anak lelaki.

Sudah lama sekali kami tidak pergi ke Padang, saya pikir ketika saya masih di sekolah dasar terakhir kali kami menyambangi kampung halaman. Ketika kehidupan menuntun kita untuk mengambil jalan berbeda di kota yang jauh, di sanalah kita menuju. Orang Padang seolah sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk merantau, begitulah yang saya lihat terjadi dalam keluarga besar ayah saya di Padang. Sekarang sebagian besar saudara ayah sudah di Bandung. Saya lahir dan besar di Jakarta dengan segala macam problematikanya dekade 80-90an, mengikuti jejak ayah saya yang mencari penghidupan di kota lain, kami pindah ke Jogjakarta selama empat tahun, merasa senang dan nyaman di kota pelajar tersebut dan sekarang di Bandung.

 

Jadi ketika saya ditanya orang mana? Kampungnya di mana? Sejujurnya saya tidak tahu harus menajwab apa, karena itu saya selalu merujuk pada asal usul kedua orang tua saya. Ibu saya juga mengalami pengalaman yang saya. Dari Malang keluarganya pindah ke Jakarta dan besar di sana. Merunut perjalanan kembali ke kampung halaman pasti selalu menarik dan penuh dengan cerita-cerita. Saya juga selalu senang sekaligus bingung ketika menjawab pertanyaan asal dan kampung halaman. Tetapi saya pikir-pikir lagi kampung halaman kita bisa jadi ada di mana saja tempat di mana kita bisa selalu merasa ada di rumah. Di mana tidak ada lagi rutinitas yang harus kita kerjakan, bertemu dengan orang-orang baik dan mereka yang mengenal kita dengan baik. Saya menemukan itu di Jogjakarta dan Magelang saat ini ketika saya selalu pulang beberapa bulan sekali ke dua kota tersebut.

 

Kalau sudah seperti ini, saya jadi benar-benar ingin pulang.

Klub Baca Bandung di Hard Rock FM

image

Malam kemarin saya diundang oleh Hard Rock FM untuk sharing tentang Klub Baca Bandung dengan tema komunitas. Bersama dengan istri, saya akhirnya sampai tepat setengah delapan malam dan bertemu dengan kang Refa yang bertindak sebagai produser acara tersebut. Salah satu yang menyenangkan dari malam itu adalah karena sebenarnya saya sendiri tidak pernah mendapatkan kesempatan main ke sebuah radio swasta dan hal ini menjadi pengalaman pertama. Bertemu dengan orang-orang dari radio ternyata menarik, dan tentu saja mereka adalah orang-orang yang mudah berinteraksi dengan orang lain. Acara di mulai jam 20.00 dan di sana saya bercerita bagaimana asal muasal Klub Baca Bandung terbentuk, berangkat dari kesamaan hobi membaca buku dan didukun oleh penerbit Bentang Pustaka, teman-teman Akademi Bercrrita menjadi peserta pertama acara kami perdana dengan membaca buku “The 100 Year Old Man Who Climbed Out Of The Window and Dissapeared” tanggal 1 Maret 2015.
Acara malam itu dipandu oleh dua orang penyiar yang cukup senior yaitu Dody 3D dan Nia. Salah satu hal yang membuat saya takjub adalah betapa para penyiar ini begitu spontan dan menguasai dunianya. Dari momen yang hening sembari bermain telepon genggam kemudian mendadak menjadi seseorang yang bisa bercerita banyak hal melalui mikenya.
Sesi tanya jawab yang berlangsung juga menarik terutama ketika kami membahas tentang beberapa karya tulis seperti buku yang kemudian diangkat dalam layar lebar. Seperti yang sudah-sudah, kami juga mengungkapkan betapa jarang sekali ada buku yang berhasil ketika menjadi film. Dari sini kami pun sempat menyebutkan sebuah buku yang dianggap kurang berhasil belakangan ini.
Sesuatu yang menarik terjadi saat disuruh untuk mempraktekkan cara membaca Read Out Loud sebuah karya tulis antara saya dan Ika yang cukup berbeda. Hal inilah kemudian yang menjadi daya tarik orang untuk ikutan Klub Baca Bandung. Dengan berbagai pengalaman membaca dan genre buku yang diminati, seseorang pasti unik ketika membaca secara Read Out Loud.
Akhirnya jam menunjukkan pukul 21.00 dan kami harus menyudahi acara dan pengalaman yang menarik itu, terima kasih kami pada Hard Rock FM Bandung yang sudah mengundang dan memberikan perhatian pada komunitas kami yang mungil ini. Saya lantas menyadari bahwa dukungan sekecil apapun bisa berharga bagi kemajuan dalam usaha untuk meningkatkan kembali minat baca kaum muda di Bandung. Mari!

Salam.