Bedah Klub Baca

Kadang sesuatu yang kecil bisa jadi terlihat sangat berarti dibandingkan sesuatu yang lebih besar, megah dan berkilau di luar sana. Ini adalah sesuatu yang saya lihat dalam beberapa acara Klub Baca Jogja. Bagaimana sebenarnya buku menjadi sesuatu yang asyik dan intens meski hanya sedikit orang yang berkumpul dan membicarakannya. Dan tentu saja efek yang lebih besar akan didapatkan jika memang buku yang dibahas sudah menarik dan berkualitas dari sananya. Menurut saya ini adalah gambaran ideal dari bagaimana kita membedah buku, meski memang jika dilakukan oleh banyak orang kekuatannya akan berbeda, mengupas sebuah buku dalam lingkup 5-10 orang saja rasanya menjadi bikin nagih.
Tidak semua buku menarik untuk dibedah seperti tidak semua acara bedah buku akan berkesan pada para peserta yang hadir dan dalam hal ini Klub Baca Jogja terlihat cukup berhasil dalam mengangkat sebuah acara bedah buku dengan agenda read out loud yang menjadi andalannya hingga hari ini.
Ketika berbicara kepenulisan, ada kalanya seorang penulis mengalami saat-saat di mana dia stuck dalam melanjutkan apa yang harus dia tuliskan. Karena sejatinya jika seorang penulis sudah terlalu lama berkutat setiap hari dengan apa yang mereka tulis, kejenuhan akan datang dan seringkali penulis harus sejenak lepas dari tulisannya, bukan? Kemudian apa yang akan dilakukan oleh para penulis untuk mencari ide lebih segar? Kalo saya sih ya bertemu dengan para pembaca lain di luar sana dan menempatkan diri juga sebagai penikmat buku, bukan lagi sebagai penulis. Di sinilah Klub Baca bisa menjadi sebuah pelarian yang membangun. Tidak saja dengan bertemu pembaca lain mendapatkan perspektif lain dan barangkali ide-ide segar, bermacam jenis bacaan lain bisa segera menjadi rujukan. Ada dua hal yang membuat Klub Baca menjadi efektif dalam kepenulisan seseorang. Pertama, dengan bertemu banyak pembaca lain, penulis bisa dengan segera keluar dari rutinitasnya dan bertemu dengan orang-orang baru yang juga pembaca. Hal ini adalah salah satu hal yang pernah disampaikan Chuck Palahniuk dalam halaman pembuka buku Stranger Than Fiction. Dalam buku tersebut Chuck mengungkapkan bahwa bertemu dengan orang lain dengan dunia yang benar-benar sepenuhnya berbeda menjadi cara mujarab bagi dirinya dalam menjemput ide. Bahkan diceritakan pernah dalam suatu acara support group yang dia hadiri, seseorang bercerita tentang kehidupan pribadinya yang berantakan dalam banyak hal dan Chuck mencatatnya. Hehehe.
Kedua, dengan adanya Klub Baca, penulis bisa menempatkan dirinya sebagai penulis sendiri atau sebagai pembaca dan menikmati sebuah bedah buku yang berkualitas. Jika sebagai penulis tentu saja ini menjadi sebuah ajang promosi dalam menyiapkan karya berikutnya bukan?
Klub Baca Jogja berdiri sekitar setahun ke belakang dan peserta yang hadir selalu dalam jumlah yang tidak begitu banyak tetapi justru dari situlah saya rasa sebuah ajang bedah buku sebaiknya dilaksanakan, terlepas dari semua hingar bingar yang ada berkaitan dengan hal promosi acara, sampingan jualan buku dan hal lainya.

Salam.

Read Out Loud

Hari Minggu esok, Klub Baca Bandung akan melangsungkan agenda pertama di bulan April. Dengan mengundang penulisnya lagi, Rhein Fathia yang kali ini hadir dengan karya barunya berjudul Gloomy Gift.

Saya kemudian berandai-andai jika kelak komunitas kecil dan iseng-iseng ini lantas menjadi komunitas yang cukup produktif dalam berkarya (karena saat ini ada beberapa penulis aktif yang ikut kegitaan kami) dan mampu menularkan semangat menulis dan berbagi cerita dengan peserta lain dengan hobi yang sama. Itu baru satu hal, kesamaan visi dan kesenangan berkarya. Dari satu hal itu saja, banyak sekali yang bisa dibangun, dikembangkan dan disebarluaskan lagi. Tidak hanya di satu kota, Bandung, Jogja atau Magelang di mana di kota-kota itulah Klub Baca sudah hadir untuk menyebarkan “virus” membaca.

Kemudian dalam hal kegiatan membaca bersama ini saya jadi selalu ingat dulu ketika masih di sekolah dasar, saya senang sekali dengan kegiatan Read Out Loud seperti yang kini dilakukan di Klub Baca. Ketika guru di depan kelas menyuruh kita membaca satu-dua paragraf dalam sebuah buku, memanggil nama saya dan saya membaca dengan keras agar seisi kelas mendengar apa yang saya baca. Ada semacam perasaan senang, bangga dan kebutuhan untuk bisa membaca dengan baik sehingga pendengar mendapatkan kesan setelah pembacaan tersebut. Saya rasa hal inilah yang membuat Klub Baca menjadi sebuah komunitas yang unik.

Karena itu saat ini muncullah komunitas-komunitas yang menggunakan ide read out loud ini sebagai agenda mereka. Ini adalah sesuatu yang menarik bagi mereka yang ingin berkarya, didengar dan diperhatikan. Kita tidak bisa beranggapan bahwa seorang pembaca buku yang tekun, juga adalah seorang pembaca yang baik ketika diminta membacakan keras-keras. Dan inilah yang membuat ternyata read out loud juga menarik untuk dilakukan.

Jadi di sebuah cafe mungil dan sejuk di daerah Dago, Minggu ini, akan ada sekumpulan muda-mudi yang membaca buku bersama. Mengundang salah satu penulis Bentang Pustaka, Rhein Fathia. Tak lupa ada door prize dan bazar buku mini dari Mizan Media Utama.

Let’s read out loud!

Salam.