Merenungkan Masa Depan Literasi

Saya mendadak teringat dengan kalimat yang menjadi judul di atas itu ketika membaca buku 50 Kisah Tentang Buku, cinta, dan Cerita-cerita di Antara Kita karya mas Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka. Tapi uniknya hal itu bukan secara langsung dikatakan oleh beliau dalam salah satu tulisannya di buku tersebut, kalimat itu muncul sebagai sebuah endorsement dari Dee Lestari yang tampil di halaman belakang buku tersebut. Dan lagi kalo diajak untuk merenungkan masa depan sebuah budaya literasi bangsa seperti Indonesia ini, rasa-rasanya kok apa yang mau saya kemukakan menjadi hanya satu di antara begitu banyak tulisan menarik dan informatif lainnya tentang gerakan literasi kita.

Pertama saya pribadi menyenangi buku yang ditulis mas Salman ini akhirnya terbit dan saya bisa puas bacanya. Rasanya seperti baru saja diberitahu akan sebuah dunia yang saya senangi dengan berbagai macam informasi baru dan tentu saja, aktual. Mas Salman sebagaimana setiap saya temui dan memiliki kesempatan untuk ngobrol selalu penuh dengan ide-ide dan cerita baru tentang apa saja. Dan hal paling menarik bagi saya tentu saja adalah tentang buku dan industrinya. Mempelajari industri ini dari seorang pemimpin penerbitan besar di Jogja secara langsung tentu menyenangkan.

Di tengah begitu maraknya bisnis penjualan buku secara online dan berkembangnya ebook, mas Salman menjadi salah satu orang yang masih setia dengan buku fisik meski tidak secara serta merta menyingkirkan perkembangan yang ada. Saat ini sudah berapa banyak buku elektronik yang bisa kita dapatkan di Playstore, terbitan Bentang Pustaka terutama.

Beliau berpendapat bahwa kunci utama memenangkan pertempuran dalam bisnis buku yang semakin kompetitif ini tidak lain kecuali menggaransi mutu konten. Sia-sia saja membugnkus konten yang busuk dengan penampilan yang cantik sebab pada akhirnya pembaca akan tahu dan kecewa berat.

Periode 1990-an menjelang runtuhnya rezim Soeharto kita sudah menyaksikan betapa banyak buku-buku dari pemikir kiri yang terbit meski karya monumental seperti Tetralogi Buru masih dijual secara diam-diam. Begitu juga dengan maraknya buku-buku terjemahan yang muncul hingga penerbitan rasanya tidak peduli lagi akan hak cipta sebuah karya dengan alasan memberikan sebanyak mungkin karya bermutu untuk dibaca. Baru-baru ini yang saya dengar adalah tentang naskah Pedro Paramo karya Juan Rulfo yang menjadi perbicangan di media sosial bahwa sebuah perusahaan penerbitan raksasa di Indonesia sudah mendapatkan hak terbitnya secara resmi dan penerbitan lain yang sebelumnya menerbitkan karya ini mendapatkan teguran akan terbitan Pedro Paramo yang tanpa izin mereka ini.

Saat ini lapak toko buku dibanjiri buku-buku terbitan media menulis bernama Wattpad dan yang lain sejenisnya, buku-buku ini selalu menampilkan bahwa karya A sudah dibaca oleh sekian juta orang. Penambahan label seperti ini rasa-rasanya seolah menjadi jaminan bahwa karyanya akan laku. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu juga menurut saya. Ditengah gempuran buku Wattpad ini, saya rasa beberapa yang benar-benar laku. Karena sekali lagi, pembaca kita tentu merasa jengah dengan begitu mudahnya sebuah karya tampil dan menjadi buku, jika sudah mendapatkan label dibaca sekian juta orang di platform media tersebut. Memang dengan semakin berkembangnya teknologi, pertumbuhan menulis dan membaca seperti ini tidak bisa juga dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana beradaptasi secara terus menerus dan tidak mengabaikan konten yang dijual. Nanti kalo sudah begini, jangan-jangan kita juga akan melihat geliat yang sama pertumbuhan pasar fiksi remaja yang perlahan menurun. Industri cetak seolah harus patuh pada tren yang sedang terjadi pada pembacanya.

Yang dilakukan oleh mas Salman dan tim Bentangnya adalah dengan memunculkan sebuah bacaan yang bisa dinikmati sekali duduk, Snackbook namanya. Sebuah jeda ketika kita antri di bank, menunggu angkutan umum bisa digunakan oleh kaum pembaca milenial kita yang konon tak bisa lepas dari gawainya, untuk membaca sebuah cerita pendek misalnya. Dari sinilah kita sebagai orang yang peduli dengan gerakan literasi di Indonesia, untuk terus menumbuhkan minat baca anak-anak mudanya. Karena memang memprihatinkan sekali jika melihat minat baca anak muda saat ini yang hanya 0,001 yang artinya dari 1000 orang hanya ada 1 orang yang gemar membaca. Itu baru pekerjaan rumah yang sesungguhnya bagi kita di dunia literasi.  Bagi industri buku, volume pasar buku di Indonesia hanya sekitar 693 juta dolar yang dihimun dari 700-an toko buku secara nasional. Jumlah ini masih kalah jauh dibandingkan dengan Jerman yang jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia, memiliki nilai pasar buku yang mencapai 4,64 miliar Euro, setara dengan 137 triliun rupiah. Yah, itu kalo buat Indonesia mungkin bisnis bisa untuk jangka panjang juga.

Jadi kalo sudah seperti itu apa yang bisa kita lakukan selain secara terus menerus bergerak bersama zaman dan beradaptasi dengan apa yang sedang terjadi pada budaya membaca kita. Saya rasa pasar buku Indonesia masih akan terus berkembang, seperti apa yang Dea Anugrah katakan dalam salah satu wawancaranya, saya tidak percaya kiamat karena dunia akan selalu berkembang.

Nah, kalo untuk yang satu itu, saya enggak bisa jelasin deh.

Advertisements

Ziggy dan Ikan-ikannya

Saya mengenali Ziggy dari namanya belakangnya yang panjang dan unik itu. Saya beberapa kali melihat namanya muncul dalam buku-buku karyanya yang bergenre fantasi atau romance remaja. Tidak ada ketertarikan sama sekali untuk mengetahui lebih jauh tentang penulis ini selain fakta bahwa beliau cukup banyak menulis buku dengan berbagai genre tersebut. Hingga kemudian muncullah namanya dalam daftar salah satu pemenang Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta 2016 yang lalu, di mana bukunya berjudul Tanah Lada menang juara kedua. Sampai di sini pun saya sebenarnya cukup kaget, ada penulis bergenre fantasi dan romance yang ternyata bisa menghasilkan sebuah naskah yang cukup diakui oleh dewan juri lomba DKJ yang terbilang mentereng itu. Tetapi toh ternyata saya juga tidak tergerak untuk membaca karyanya yang lain karena tidak ada urgensi untuk mengetahui lebih jauh dan masih ada banyak buku penulis lain yang menggoda untuk saya baca.

Baru kemudian di awal tahun 2017 saya dengar kabar bahwa naskah terbaru Ziggy berjudul Semua Ikan di Langit kali ini masuk daftar pemenang lomba DKJ yang sama dan tidak cukup sampai situ saja, kali ini naskah tersebut menjadi satu-satunya pemenang yang diakui oleh dewan juri di samping adanya 4 naskah unggulan yang mereka umumkan. Dari sinilah saya kemudian tergerak untuk mencari tahu, dalam hal ini tentu saja saya mencari tahu karyanya lebih dahulu. Tetapi sebelum itu saya ingin sekali memberi tahu poin yang disampaikan dewan juri DKJ ketika memutuskan memenangkan naskah ini, mereka menganggap bahwa Semua Ikan di Langit ditulis dengan keterampilan bahasa yang berada di atas rata-rata para peserta lainnya dan ada perbedaan mutu yang tajam antara naskah ini naskah pemenang unggulan yangmembuat mereka tidak memilih adanya pemenang kedua atau ketiga tahun ini.

Semua Ikan di Langit berkisah dari tokoh utama yang ternyata adalah sebuah bus berwarna biru di Bandung yang kita ketahui sebagai bus Damri. Dari sini saja rasanya sudah membuat pembaca berkerut keningnya membayangkan apa yang akan dialami oleh sebuah bus kota trayek Dipatiukur-Leuwipanjang ini dalam buku ini. Bus Damri yang gembrot dan mampu berkomunikasi dan makhluk apa saja melalui lantai busnya. Bus ini kemudian bertemu dengan seorang bocah cilik yang mengambang dengan jas hitam yang terlalu besar untuk anak seusianya dan ini yang lebih ajaib lagi, anak ini ke mana-mana selalu diikuti oleh beberapa ikan julung-julung! Bersama dengan seekor kecoak bernama Nad, mereka bertualang ke berbagai tempat, bahkan mengelilingi angkasa juga melintasi ruang dan waktu.

Petualangan bus biru ini digambarkan begitu rupa dan menabrak berbagai logika cara berpikir kita yang kadang begitu terkotak-kotak dan mengharapkan sebuah analogi yang cukup masuk akal ketika pertama membaca buku ini di halaman-halaman awal. Tunggu sebentar, itu tidak akan terjadi. Karena seperti yang bus biru katakan sendiri,

“ Saya pernah menjadi bus biasa. Lalu saya terbang. Kali pertama itu, inilah yang saya pikirkan: Barangkali saya bisa turun. Tapi tidak bisa. Coba berhenti. Tapi tidak bisa. Ke kanan. Tapi tidak bisa. Saya terus maju, maju, maju mengikuti ikan julung-julung. Roda saya tidak berputar. Tapi saya terus naik, terus maju, menabrak awan dan tidak berhenti juga.” (hal.9)

Kata demi kata seolah dipilih untuk mempertanyakan kembali imajinasi kita yang kadang semakin tua semakin tumpul. Bagaimana caranya sebuah bus kota gembrot dan besar itu bisa terbang begitu saja dan pergi mengikuti ikan julung-julung yang kemudian mengantarkannya kepada anak kecil yang selanjutnya disebut sebagai Beliau? Semua pertanyaan kita akan sesuatu yang masuk akal sebaiknya berhenti kita lakukan, sebagai pembaca kita diharapkan untuk terus membaca karena tidak perlu berkerut dahi hanya untuk mempertanyakan tentang logika dan semacamnya dalam buku ini. Yang ditawarkan dari sini adalah pengalaman dan petualangan yang enteng dan kadang jenaka.

Semakin jauh kita membaca kisah bus Damri ini tentu saja semakin banyak kelopak misteri yang akan kita temukan terbuka. Seperti misalnya kisah tersirat mengapa Beliau tidak makan dan tidak tidur, tidak pernah menapakkan kakinya di lantai dan selalu terbang dan mencipta berbagai hal yang ajaib. Saya menemukan bahwa Beliau sendiri rasanya lebih cocok sebagai manifestasi dari Tuhan, sang Maha segalanya yang dalam buku ini diabadikan sebagai seorang anak kecil yang senang dan berbahagia ketika orang lain bersikap baik padanya. Dan mampu melakukan hal yang jahat pulan jika hatinya tersakiti.

“Mungkin saya harus berhenti mempertanyakan kemampuan Beliau dalam membela dirinya. Beliau memang tidak secara langsung menghajar orang yang kurang ajar, tapi Beliau bisa menjahit mata mereka, atau melakukan sesuatu yang membuat mereka menderita dalam jangka waktu panjang dengan keajaibannya.” (hal. 107)

Beberapa hal dan adegan digambarkan secara tersirat dalam menggambarkan Tuhan, penciptaan, dosa dan pahala juga tentang sifat-sifat Tuhan yang manusia pahami selama ini. Menyiratkan hal-hal seperti ini dalam bungkusan cerita fiksi dengan gaya bercerita seorang anak-anak rasanya begitu cerdik dilakukan oleh Ziggy sehingga orang bisa bersikap dalam dua hal tentang buku ini. Pertama, kita bisa mengganggap buku ini mengangkat hal-hal spiritualisme dengan pendekatan yang sesederhana mungkin dan tentu saja hal ini cukup sentimental bagi saya pribadi. Seperti saat saya selalu mencari-cari tanda yang Ziggy tulis untuk menyiratkan hal tersebut. Kedua, nikmatilah petualangan ajaib dan absurd ini tanpa pretensi apapun selain untuk hiburan pengusir kebosanan dan rutinitas yang menjemukan dari hari-hari kita yang sudah terjadwal. Dan jangan kaget ketika beberapa hal seolah bertabrakan dengan apa yang kita imajinasikan selama ini.

Saya pikir sebuah bus yang memiliki perasaan, terbang ke sana kemari dengan anak kecil berjas besar dan kecoak kecil bernama Nad dan jangan lupa ikan julung-julung yang selalu muncul setiap saat, itu sudah keajaiban yang luar biasa.

Major atau Indie

Apa yang terbesit di pikiranmu jika mendengar kedua kata tersebut? Kali ini saya akan membahas sesuatu yang secara spesifik saya senangi, yaitu menulis dan dunia penerbitan yang kemudian kita bisa membaginya ke dalam dua konsep tadi. Saat ini di tengah semakin majunya dunia teknologi, semakin berkembanglah dunia teknologi dalam urusan cetak mencetak buku. Pekerjaan menghasilkan sebuah buku memang dimulai dari menuliskan serangkaian kata menjadi cerita atau berbagai langkah-langkah yang praktis dalam menyusun sebuah karya non fiksi misalnya. Dan ketika sebuah naskah sudah dianggap selesai, kita bisa membuatnya menjadi buku.

Saya pernah mendengar bahwa alasan sebuah penerbitan bisa terus berjalan adalah dengan adanya penulis produktif yang juga menghasilkan sebuah karya bagus. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan karya yang dihasilkan oleh penulis, sebuah buku bisa dicetak dengan menarik, dan di sinilah kerja penerbitan. Melihat semakin menjamurnya penerbitan indie di Indonesia saat ini, penerbit major rasa-rasanya mendapatkan pesaingnya yang benar-benar sepadan. Berkaitan dengan mudahnya akses untuk menjangkau teknologi cetak offset dan digital printing, kini mencetak buku bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik para penerbit major. Penerbit indie dengan semangat mengusung idealisme yang tentu saja berbeda satu-dua hal dengan penerbit major menawarkan hal yang segar kepada pembaca kita dewasa ini.

Lantas apa yang membedakan kedua konsep tadi sekarang? Jika kita teliti lebih dalam saya rasa konsep major dan indie saat ini juga sudah tidak berbeda sama sekali. Karena keduanya melalui proses naskah yang sama hanya saja dalam penerbitan indie, porsi keikutsertaan penulis menjadi sesuatu yang penting. Penulis tidak hanya bertugas menulis dan menghasilkan karya tetapi juga perlahan mulai dikenalkan dengan apa-apa saja yang perlu dia ketahui untuk menjual karyanya. Dalam lingkaran yang paling kecil, penulis tentu ingin karyanya dibaca dan keluarga, teman menjadi sasaran pembaca yang paing pertama bisa kita sodorkan buku itu. Dalam hal apakah karya tulis itu menarik bagi pembaca secara luas saya rasa baik penerbit major atau indie mendapatkan perlakuan yang sama. Sebuah penerbitan indie juga mengalami siklus buku yang bisa laku terus dan cetak ulang berkali-kali atau bahkan menghasilkan buku yang menjual 100 eksemplar saja sulit sekali atau memakan waktu yang lama. Tidak semua buku indie jelek dan tidak semua buku major juga bagus. Saya rasa keduanya mengalami nasib yang sama. Beberapa penulis yang sudah mapan juga memilih mencetak melalui penerbitan indie dengan alasannya masing-masing. Tetapi ada juga penulis yang tidak bosan menulis dan mengirimkan naskahnya hingga bisa diterbitkan oleh penerbit major. Memperhitungkan jangkauan distribusi yang luas tentu menjadi salah satu daya tarik mengapa penerbit major lebih disukai dibandingkan dengan penerbit indie.

Kita bisa melihat bagaimana di Jogjakarta muncul penerbit-penerbit indie dengan semangat yang sama untuk memajukan literasi bangsanya menjadi sebuah gerakan yang bukan main-main. Buku-buku terbitannya pun tidak kalah menarik dengan buku dari penerbit major. Baik dari segi isi buku, cover dan bahkan distribusi mereka yang saat ini juga sudah merambha toko-toko buku besar. Tetapi untuk menyikapi hal terakhir ini saya rasa bukan menjadi persoalan yang terlalu krusial. Penjualan offline melalui toko-toko buku besar dengan jaringan luas di Indonesia saat ini menjadi salah satu pilihan saja dalam mendistribusikan sebuah buku.

Tidak kalah dalam hal itu, penerbitan indie juga mengakomodir penjualan online melalui kanal-kanal toko buku online yang secara jangkauan juga berada di mana-mana di kota besar di Indonesia. Bukankah dengan begini hal dalam penjualan dan distribusi bukan menjadi soal lagi? Saya pernah mendengar seorang berkata bahwa saat ini yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi dalam menciptakan sebuah karya. Sebuah karya seperti buku bukan saja kerja seorang penulis saja di jaman yang serba cepat seperti sekarang. Kerja kolaborasi dari berbagai pihak bisa menjadi sesuatu yang penting dan menarik untuk diperhatikan gerakannya dalam mengembangkan sebuah karya.

Kalau sudah begini, mungkin rasanya yang paling tepat untuk dilakukan dengan segera mungkin adalah bagaimana kita menghasilkan sebuah karya apapun sebanyak-banyaknya bukan? Karena selalu percaya seperti kata seorang CEO penerbit major yang saya kenal, buku yang bagus akan menemukan pembacanya masing-masing.

Jadi mana bukumu?

 

Bandung dan Dunia Literasinya

Saya selalu iri sekaligus bangga dengan lingkungan literasi yang semakin hari semakin tumbuh di Yogyakarta saat ini. Bagaimana tidak, semua tentang buku dan berbagai event digelar dari yang berbayar hingga yang gratis. Tetapi dengan gratis tentu saja tidak berarti acara yang digelar tidak bermutu. Justru banyak event buku atau bedah buku digelar secara gratis sekaligus bermutu tinggi.  Tapi tunggu, kenapa saya memulai tulisan ini dengan semua yang terjadi dalam dunia literasi Yogyakarta ya? Karena bisa jadi dalam hal itulah Bandung belum bisa menyamai pencapaian Yogyakarta dalam menggelar berbagai event atau menggerakkan komunitas literasinya.

Saya menulis ini tentu tidak untuk membanding-bandingkan lingkungan literasi yang ada di dua kota tersebut. Karena sejujurnya, siapalah saya yang dengan serta merta berusaha menilai kancah literasi dua kota besar itu. Yang menjadi menarik juga adalah bahwa komunitas yang ada di Bandung sebenarnya tidak sedikit, bahkan bisa dibilang banyak dan perlahan tapi pasti juga sedang menapakkan kakinya di dunia literasi bangsa kita. Tak perlulah menyebutkan secara spesifik beberapa komunitas yang tentu teman-teman sekalian sudah pernah datangi beberapa tahun belakangan ini. Semuanya saya rasa menarik dan patut untuk diapresiasi.

Dalam hal kaitannya dengan dukungan pemerintah, sudah ada bentuk konkret dari pemerintah kota Bandung untuk membuat sebuah perpustakaan kecil terletak di Lapangan Gasibu yang sudah tentu menjadi barang baru selama beberapa tahun terakhir ini di lapangan yang selalu menjadi tempat berkumpul anak muda tersebut. Dengar-dengar sebuah perpustakaan yang tak kalah besar juga sudah disiapkan di Alun-alun Bandung yang menjadi kebanggaan kota Bandung saat ini. Hal-hal ini tentu saja menjadi semacam dorongan bagi penggerak literasi di Kota Kembang dalam mengembangkan literasi di kotanya. Tentu saja  dengan adanya perpustakaan tidak serta merta membuat orang-orang berdatangan ke sana dan membaca buku. Harus ada sebuah langkah konkret yang dibuat oleh pemerintah untuk hal itu.

Kemudian muncullah wadah independen dari beberapa komunitas di Bandung yang menggelar berbagai event buku. Akhir tahun 2016 kemarin kita bisa melihat adanya sebuah event literasi yang jarang sekali kita bisa nikmati yang diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, di acara yang berlangsung selama satu minggu penuh itu, pengunjung bisa bertemu dengan berbagai penerbit yang entah mengapa saat itu di dominasi oleh penerbit bukan dari Bandung, juga beberapa lapak buku khusus yang menggelar buku-buku langka dan patut dikoleksi. Tak kalah dari itu, berbagai diskusi dan pembacaan karya juga memenuhi jam pagelaran literasi tersebut. Secara pribadi baru kali itu saya melihat sebuah event yang digagas dengan unik, secara mandiri bisa menghasilkan acara yang berbeda dari pameran buku pada umumnya. Saya pikir hal inilah yang perlu dilakukan lebih sering di kota Bandung tercinta ini.

Lapak buku baik online maupun offline juga banyak di Bandung, perpustakaan yang konsisten dengan tema dan koleksi bukunya yang ajaib juga bisa ditemukan di kota ini. Lantas mengapa saya bilang dunia literasi Bandung masih kalah dari Yogyakarta? Bagaimana dengan dunia penerbitan indienya? Dalam hal ini saya rasa menjadi hal yang esensial dalam mengembangkan kancah literasi kota ini. Jika melihat kota Yogya yang memiliki banyak sekali penerbitan indie, sekaligus memunculkan banyak penulis baru dengan berbagai gaya tulisan, semakin memperkaya dunia buku di kota tersebut. Belum lagi ditambah dengan buku-buku terjemahan yang kualitasnya tidak kakalh dengan penerbit major. Lantas mengapa hanya sedikit sekali penerbitan mandiri yang ada di kota ini?

Jika melihat apa yang dikatakan salah satu teman yang memiliki penerbitan indie di kota Yogya, (saya rasa juga tak perlulah menyebutkan namanya di sini) penerbitan indie Yogya marak kembali karena biasanya mereka berangkat dari penjualan buku secara online yang mereka rintis, dengan semakin berkembangnya buku-buku dari berbagai macam penulis tersebut, membuat toko online ini pun perlu punya produk sendiri yang mereka kelola dengan baik sehingga ketika ada masa di mana buku kelompok penerbit major sedang tidak ramai, mereka tetap punya lini penjualan yang bisa mereka kontrol dengan mendorong produk-produk buku mereka sendiri. Saya rasa inilah yang perlu kita contoh di Bandung. Toh saya rasa anak mudanya juga cukup banyak, tak perlu disangkal lagi iklim kreatifitas di kota ini tumbuh subur di berbagai lini seperti musik, seni dan budaya. Lantas mengapa tidak dengan dunia literasinya?

Awal tahun ini saya mengikuti sebuah gerakan #1minggu1cerita yang digagas oleh sejumlah teman yang ternyata sampai sekarangmasih giat untuk mengembangkan gerakan ini. Saya tak punya prentensi atau harapan apa-apa dengan mengikuti ini selain hanya untuk mendorong saya lebih giat menulis karena kok rasanya kemampuan saya menulis juga menurun seiring banyaknya kesibukan setiap hari. Saya selalu rindu menulis cerita, memberikan pendapat saya secara jujur kepada selembar kertas kosong, membagikannya kepada mereka yang mungkin juga senang membaca dan kemudian menularkan virus menulis yang dengan begitu harapannya semakin banyak orang yang menulis, entah itu menulis cerita pendek, novel, artikel, hingga kemudian ada sebuah penerbitan yang berani menerbitkan kumpulan tulisanmu menjadi sebuah buku dan karyamu bisa dibaca banyak orang secara luas.

Semoga ikhitiar kecil ini bisa berguna untuk orang banyak, mari mulai menulis #1minggu1cerita

Salam.

Di Balik Kampung Halaman

Saya lama berpikir tentang bagaimana menulis tentang kampung halaman atau seperti kebanyakan orang yang dengan mudah bisa bercerita banyak tentang berbagai macam hal di kampung halamannya. Saya menemukan bahwa saya sendiri sebenarnya tidak merasa punya kampung halaman. Jika yang dimaksud dengan kampung halaman adalah sebuah tempat di mana kita pulang ketika lebaran, berkumpul dengan semua sanak saudara di tempat kita pernah lahir dan tumbuh besar, saya merasa tidak punya tempat seperti itu.
Lantas kalo saya lebaran, mudik ke kampung mana? Nah kalo ini juga baru saya rasakan dua tahun terakhir di mana saya sudah beristri orang Magelang yang dari situ, saya jadi punya kewajiban untuk menemani istri pulang kampung ke Magelang, di Salaman tepatnya. Tetapi jauh sebelum itu, saya tidak merasa punya kampung halaman. Saya memang lahir dan besar di Jakarta, ibukota negara kita tercinta. Tapi kok rasanya juga pulang mudik ke Jakarta itu tidak menjadi salah satu agenda saya dan keluarga dulu ketika musim mudik tiba. Memang saya punya keluarga besar di sana, tetapi tidak semuanya di sana.

 

Saya sudah 12 tahun tinggal di Bandung dan selama sepuluh tahun saya mengalami lebaran pula di sini. Tidak ke mana-mana selain berkunjung ke keluarga besar di daerah Caringin. Keluarga ayah saya dari Padang, dan sebagaimana keluarga Padang lain, kami lebih memilih berlebaran di tanah rantau daripada di kampung halaman. Hampir sebagian besar keluarga besar ayah saya ada di Bandung dan di sinilah kami biasanya berlebaran.

 

Kalau membayangkan kampung halaman di mana daerah itu berarti kampung, desa atau tempat yang jauh dari kota, keluarga besar ayah saya punya hal itu. Kampungnya bernama Rao-rao, sebuah kota kecil di Payakumbuh, Sumatera Barat. Keluarga besar di sana masih memiliki sebuah rumah gadang yang entah sudah berapa lama bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Rumahnya terakhir kali kami ke sana, masih terlihat kokoh, ayah saya bilang kayunya dulu berasal dari pohon jati yang kokoh, di sebelah kanan bangunan rumah gadang ada lumbung padi tempat biasa dulu keluarga kami menimbun gabah. Ada batu besar di depan rumah tersebut yang dulu sering menjadi tempat saya dan adik-adik bermain dan memanjat batu tersebut sakin tingginya.

 

Rumah itu tidak ada kamar mandinya ketika itu, sehingga untuk urusan kamar mandi dibuatkan sebuah kamar mandi di luar bangunan yang berjarak tak jauh dari rumah. Sejauh yang saya ingat, air di sana sangat dingin, jam enam pagi masih serupa subuh, karena embun masih menyelimuti daerah tersebut. Sedikit sekali pengalaman saya tentang rumah tersebut, saya ingat wujudnya, kayunya, lantainya yang berderit ketika kita berjalan di dalamnya. Kata ayah saya, rumah itu memiliki 7 kamar yang bersekat-sekat. Menurut orang Padang, rumah itu diwarisi kepada anak perempuan dalam keluarga, karena di sana menganut budaya matrilinial. Anak wanita di sana mendapatkan hak waris lebih banyak dari anak lelaki.

Sudah lama sekali kami tidak pergi ke Padang, saya pikir ketika saya masih di sekolah dasar terakhir kali kami menyambangi kampung halaman. Ketika kehidupan menuntun kita untuk mengambil jalan berbeda di kota yang jauh, di sanalah kita menuju. Orang Padang seolah sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk merantau, begitulah yang saya lihat terjadi dalam keluarga besar ayah saya di Padang. Sekarang sebagian besar saudara ayah sudah di Bandung. Saya lahir dan besar di Jakarta dengan segala macam problematikanya dekade 80-90an, mengikuti jejak ayah saya yang mencari penghidupan di kota lain, kami pindah ke Jogjakarta selama empat tahun, merasa senang dan nyaman di kota pelajar tersebut dan sekarang di Bandung.

 

Jadi ketika saya ditanya orang mana? Kampungnya di mana? Sejujurnya saya tidak tahu harus menajwab apa, karena itu saya selalu merujuk pada asal usul kedua orang tua saya. Ibu saya juga mengalami pengalaman yang saya. Dari Malang keluarganya pindah ke Jakarta dan besar di sana. Merunut perjalanan kembali ke kampung halaman pasti selalu menarik dan penuh dengan cerita-cerita. Saya juga selalu senang sekaligus bingung ketika menjawab pertanyaan asal dan kampung halaman. Tetapi saya pikir-pikir lagi kampung halaman kita bisa jadi ada di mana saja tempat di mana kita bisa selalu merasa ada di rumah. Di mana tidak ada lagi rutinitas yang harus kita kerjakan, bertemu dengan orang-orang baik dan mereka yang mengenal kita dengan baik. Saya menemukan itu di Jogjakarta dan Magelang saat ini ketika saya selalu pulang beberapa bulan sekali ke dua kota tersebut.

 

Kalau sudah seperti ini, saya jadi benar-benar ingin pulang.