Merenungkan Masa Depan Literasi

Saya mendadak teringat dengan kalimat yang menjadi judul di atas itu ketika membaca buku 50 Kisah Tentang Buku, cinta, dan Cerita-cerita di Antara Kita karya mas Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka. Tapi uniknya hal itu bukan secara langsung dikatakan oleh beliau dalam salah satu tulisannya di buku tersebut, kalimat itu muncul sebagai sebuah endorsement dari Dee Lestari yang tampil di halaman belakang buku tersebut. Dan lagi kalo diajak untuk merenungkan masa depan sebuah budaya literasi bangsa seperti Indonesia ini, rasa-rasanya kok apa yang mau saya kemukakan menjadi hanya satu di antara begitu banyak tulisan menarik dan informatif lainnya tentang gerakan literasi kita.

Pertama saya pribadi menyenangi buku yang ditulis mas Salman ini akhirnya terbit dan saya bisa puas bacanya. Rasanya seperti baru saja diberitahu akan sebuah dunia yang saya senangi dengan berbagai macam informasi baru dan tentu saja, aktual. Mas Salman sebagaimana setiap saya temui dan memiliki kesempatan untuk ngobrol selalu penuh dengan ide-ide dan cerita baru tentang apa saja. Dan hal paling menarik bagi saya tentu saja adalah tentang buku dan industrinya. Mempelajari industri ini dari seorang pemimpin penerbitan besar di Jogja secara langsung tentu menyenangkan.

Di tengah begitu maraknya bisnis penjualan buku secara online dan berkembangnya ebook, mas Salman menjadi salah satu orang yang masih setia dengan buku fisik meski tidak secara serta merta menyingkirkan perkembangan yang ada. Saat ini sudah berapa banyak buku elektronik yang bisa kita dapatkan di Playstore, terbitan Bentang Pustaka terutama.

Beliau berpendapat bahwa kunci utama memenangkan pertempuran dalam bisnis buku yang semakin kompetitif ini tidak lain kecuali menggaransi mutu konten. Sia-sia saja membugnkus konten yang busuk dengan penampilan yang cantik sebab pada akhirnya pembaca akan tahu dan kecewa berat.

Periode 1990-an menjelang runtuhnya rezim Soeharto kita sudah menyaksikan betapa banyak buku-buku dari pemikir kiri yang terbit meski karya monumental seperti Tetralogi Buru masih dijual secara diam-diam. Begitu juga dengan maraknya buku-buku terjemahan yang muncul hingga penerbitan rasanya tidak peduli lagi akan hak cipta sebuah karya dengan alasan memberikan sebanyak mungkin karya bermutu untuk dibaca. Baru-baru ini yang saya dengar adalah tentang naskah Pedro Paramo karya Juan Rulfo yang menjadi perbicangan di media sosial bahwa sebuah perusahaan penerbitan raksasa di Indonesia sudah mendapatkan hak terbitnya secara resmi dan penerbitan lain yang sebelumnya menerbitkan karya ini mendapatkan teguran akan terbitan Pedro Paramo yang tanpa izin mereka ini.

Saat ini lapak toko buku dibanjiri buku-buku terbitan media menulis bernama Wattpad dan yang lain sejenisnya, buku-buku ini selalu menampilkan bahwa karya A sudah dibaca oleh sekian juta orang. Penambahan label seperti ini rasa-rasanya seolah menjadi jaminan bahwa karyanya akan laku. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu juga menurut saya. Ditengah gempuran buku Wattpad ini, saya rasa beberapa yang benar-benar laku. Karena sekali lagi, pembaca kita tentu merasa jengah dengan begitu mudahnya sebuah karya tampil dan menjadi buku, jika sudah mendapatkan label dibaca sekian juta orang di platform media tersebut. Memang dengan semakin berkembangnya teknologi, pertumbuhan menulis dan membaca seperti ini tidak bisa juga dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana beradaptasi secara terus menerus dan tidak mengabaikan konten yang dijual. Nanti kalo sudah begini, jangan-jangan kita juga akan melihat geliat yang sama pertumbuhan pasar fiksi remaja yang perlahan menurun. Industri cetak seolah harus patuh pada tren yang sedang terjadi pada pembacanya.

Yang dilakukan oleh mas Salman dan tim Bentangnya adalah dengan memunculkan sebuah bacaan yang bisa dinikmati sekali duduk, Snackbook namanya. Sebuah jeda ketika kita antri di bank, menunggu angkutan umum bisa digunakan oleh kaum pembaca milenial kita yang konon tak bisa lepas dari gawainya, untuk membaca sebuah cerita pendek misalnya. Dari sinilah kita sebagai orang yang peduli dengan gerakan literasi di Indonesia, untuk terus menumbuhkan minat baca anak-anak mudanya. Karena memang memprihatinkan sekali jika melihat minat baca anak muda saat ini yang hanya 0,001 yang artinya dari 1000 orang hanya ada 1 orang yang gemar membaca. Itu baru pekerjaan rumah yang sesungguhnya bagi kita di dunia literasi.  Bagi industri buku, volume pasar buku di Indonesia hanya sekitar 693 juta dolar yang dihimun dari 700-an toko buku secara nasional. Jumlah ini masih kalah jauh dibandingkan dengan Jerman yang jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia, memiliki nilai pasar buku yang mencapai 4,64 miliar Euro, setara dengan 137 triliun rupiah. Yah, itu kalo buat Indonesia mungkin bisnis bisa untuk jangka panjang juga.

Jadi kalo sudah seperti itu apa yang bisa kita lakukan selain secara terus menerus bergerak bersama zaman dan beradaptasi dengan apa yang sedang terjadi pada budaya membaca kita. Saya rasa pasar buku Indonesia masih akan terus berkembang, seperti apa yang Dea Anugrah katakan dalam salah satu wawancaranya, saya tidak percaya kiamat karena dunia akan selalu berkembang.

Nah, kalo untuk yang satu itu, saya enggak bisa jelasin deh.

Bagaimana Sastrawan Melihat Gadgetisme Dalam Budaya Literasi Kita

Hari Selasa (21/2) kemarin salah satu sastrawan besar Indonesia yang saya idolai datang ke Galeri Soemardja Book Fair 2017 dan melakukan orasi kebudayaan yang menarik. Jarang sekali saya melihat Seno Gumira Ajidarma datang ke sebuah acara dan bicara tentang kebudayaan. Meski kemudian hal yang dia angkat kembali lagi ke dunia literasi kita secara umum dan budaya keberaksaraan kita secara khusus.

79e537178bd34aac65bbd356a64669dbFoto dari AyoBandung.com

Beliau menyoroti bagaimana gadgetisme menjadi hal yang cenderung menakutkan dengan begitu cepatnya perkembangan teknologi yang berimbas pada cara kita berkomunikasi sekaligus membaca. Teks datang silih berganti begitu cepat dan begitu banyak di hadapan layar ponsel kita. Seno melihat ini sebagai sebuah gejala yang memang tidak bisa dihindari tetapi seharusnya bisa kita sikapi dengan lebih jernih. Beliau berkisah bahwa ketika jaman sekarang telepon genggam menjadi bagian dari kehidupan kita, hal ini memunculkan budaya membaca cepat dan ringkas, membuat orang tidak bisa lepas dari telepon genggamnya.

“Kalo orang kita sekarang ini, kehilangan hape saja rasanya seperti sudah terputus dari dunia. Saya hidup di mana semua ini belum dimulai dan saya pernah merasakan kehilangan hape, dan dunia kok rasanya baik-baik saja.”

Ketika budaya membaca cepat dan ringkas ini semakin bergerak bebas, yang menjadi ancaman tentu saja dunia literasi kita. Indonesia sendiri masuk dalam urutan ke-3 terbesar dalam hal para pengguna media sosial Facebook, tetapi jika menyangkut minat baca kita yang masuk urutan 60 dari 61 negara yang disurvey di mana hanya ada 1 orang yang membaca di antara 1000 orang masyarakat kita hal ini yang disebut oleh Seno sebagai kelisanan sekunder. Karena sejatinya dengan serbuan berbagai macam teks di layar telepon genggam itu, kita tidak memiliki waktu untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Yang ada hanya serapan visual akan apa yang disuguhkan orang lain kepada kita. Seno berkata pula bahwa dengan membaca kita bisa menjadi diri sendiri. Karena dunia dalam buku bacaan begitu kaya, imajinasi lebih mengambil peran dalam proses pembacaan, sedangkan budaya serapan visual hanya menyuguhkan berbagai macam hal yang hanya mampu kita terima. Akan lebih baik jika kita bisa memposisikan gadget saat ini sekadar sebagai alat.

Menyangkut maraknya berita hoax itu pula, beliau berkata bahwa,

“Dalam hoax tidak ada lagi refleksi yang ada hanya nafsu untuk memaki. Membuat orang menjadi fanatik itu bodoh akan tetapi orang yang pura-pura fanatik itu lebih jahat.”

Rangkaian berita yang entah bagaimana verifikasi kebenarannya itu disuguhkan di sekitar kita 24 jam setiap hari tanpa sempat lagi kita berpikir dan merefleksi diri.

Saat itu saya berpikir bahwa memang benar situasi yang ada di sekitar kita saat ini. orang harus pandai-pandai berstrategi untuk menyikapi bukan hanya begitu banyak konsumsi budaya visual dan budaya tulisan yang muncul dalam gadget kita setiap hari tetapi juga bagaimana kita bisa menyikapi dan mengambil jarak akan setiap informasi yang kita terima. Minta baca kita yang rendah menjadi sasaran paling empuk bagi para pemilik sumber berita untuk menyuguhkan apa saja ke dalam pikiran kita dan tak diberikannya waktu untuk berpikir. Padahal bagi seothrift rang penulis tentu saja kata-kata digunakan untuk mengakomodir gagasannya pribadi dalam menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai. Imajinasi digunakan untuk melepaskan diri dunia rutinitas yang kita ketahui belaka. Ketik ruang untuk berimajinasi ditutup dan bahkan dikotak-kotakkan yang ada hanyalah sekumpulan orang yang dapat dengan mudah digiring pada suatu kepentingan tertentu.

Rasa-rasanya kepala menjadi perlu berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang semuanya. Bagaimana hendak mengajak satu orang membaca buku jika layar telepon genggam terus dipegangnya dan menyuguhkan ragam tulisan ringkas dan cepat begitu banyak dan lebih menarik?

Pelan-pelan saya menjadi lelah meski tetap berusaha optimis.

Menulis atau Tidak Sama Sekali

Kalau melihat gelagat dari judulnya kok rasanya sombong sekali. Tetapi bukan itu juga sebenarnya maksud saya, ini lebih semacam niat. Seno Gumira Ajidarma pernah bilang dalam salah satu bukunya ketika ditanya bagaimana resepnya untuk bisa terus menulis berbagai macam cerpen yang hebat seperti itu beliau hanya menjawab,

“Boleh bisa apa saja termasuk menulis, boleh tidak bisa apa saja kecuali menulis.”

Dari situ rasanya pertanyaan yang diharapan mendapatkan jawaban yang melulu teknis dan penuh penghayatan akan bagaimana menulis yang baik dan terus menerus, rasanya luruh begitu saja. Seorang penulis besar dan salah satu sastrawan yang saya kagumi hanya menganggap bahwa tidak ada itu yang namanya resep sukses selain daripada melakukan hal itu terus menerus tanpa kecuali.  Karena kadang kita sebagai penulis kelas teri, berusaha menganggap bahwa para penulis hebat dan sastrawan lokal maupun internasional di jaman dulu tentu melakukan suatu hal yang luar biasa sehingga karyanya diakui di mana-mana. Kadang juga kita mungkin terlalu besar menganggap orang tersebut sehingga merendahkan diri kita sedalam mungkin untuk sekadar berharap bahwa kita pun juga bisa menghasilkan karya yang sama bagusnya atau lebih bagus dari mereka.

Sampai di sini, di mana kita berpikir tentang diri dan karya yang sudah kita hasikan selama ini?

Perjalanan seorang penulis dalam menghasilkan karya-karya yang luar biasa diakui di masanya memang berbeda-beda. Setiap orang punya ceritanya masing-masing dan gaya yang menjadi ciri khasnya. Sekarang persoalannya di mana kita bisa menemukan gaya dan ceritanya kita tersebut untuk kemudian disampaikan dalam berbagai cara yang kita pikir mampu? Kalo saya tentu ya hanya dengan menulis. Saya sendiri pernah mengalami di mana merasakan sekali kesenangan menulis dan bercerita macam-macam yang kadang kalo dipikir lagi, itu bukan cerita yang ingin saya sampaikan pada dunia. Mungkin lebih semacam saluran untuk mengasah bagaimana saya bercerita dalam tulisan. Saya menceritakan hal-hal kecil yang kemudian saya bermain dalam metafora di sana-sini dan bermain sesuatu yang sureal. Masa di mana setiap ide bisa diasah sedemikian rupa dan menghasilkan sesuatu yang saya inginkan. Dari situ saya bisa belajar lebih jauh memang, karena saya percaya momentum harus selalu diciptakan. Beberapa tahun belakangan ini saya malasa sekali untuk menulis, kesibukan mencari penghidupan yang lebih baik memenuhi jam-jam saya dan menulis rasanya menjadi sesuatu yang mewah untuk dilakukan. Sekarang semangat untuk kembali menulis kembali muncul di awal tahun. Membiasakan diri menulis dan bercerita apa saja menjadi bahan bakar awalnya. Saya ingin bisa menulis cerita pendek yang banyak lagi mengingat kini cerita pendek yang pernah saya buat hilang entah ke mana dan belum bisa diselamatkan.

Dan lantas kalo berpikir lebih jauh tentang menulis dan apa yang ingin kita sampaikan. Rasanya mengembalikan segala hal pada intinya yang sederhana menjadi terasa mudah. Kalo ingin menulis ya lakukan saja, tidak ada alasan lain untuk itu. Jika memang ada alasan lain artinya kita memang sedang tidak ingin betul menulis. Saya ingin menjadikan tulisan-tulisan saya sebagai sesuatu yang ingin saya wariskan ke pada orang banyak. Saya ingin dikenal melalui tulisan saya. Dan perasaan emosi semacam ini yang kadang mendorong saya untuk terus menulis sekarang meski belum menemukan momentumnya yang pas. Saya dibesarkan oleh seorang ayah yang wartawan senior, beliau menghabiskan separuh hidupnya bekerja sebagai buruh tinta dan saya ingat betapa saya dulu bangga beliau melakukan hal itu. Saya bangga bahwa dulu saya pernah bercita-cita untuk juga mengikuti jejaknya menjadi wartawan dan sesungguhnya saya pernah juga mencobanya. Jadi saya berpikir hanya dengan menulislah kita bisa dikenang dengan lebih baik. Ada karya yang akan dibaca orang jika kelak karya itu benar-benar disebar luaskan. Sesuatu yang sentimentil bukan?

Jadi kembali pada judul tulisan itu kembali, saya bilang bahwa ini adalah semacam niat yang saya ikrarkan pada diri saya sendiri. Berusaha mengingatkan diri saya bahwa tidak ada alasan lagi untuk menulis selain segera melakukannya. Dan saya selalu ingat kata SGA di awal tadi, saya harus bisa menulis dengan baik, itu saja. Kalau tidak, lebih baik tidak usah sama sekali.

Major atau Indie

Apa yang terbesit di pikiranmu jika mendengar kedua kata tersebut? Kali ini saya akan membahas sesuatu yang secara spesifik saya senangi, yaitu menulis dan dunia penerbitan yang kemudian kita bisa membaginya ke dalam dua konsep tadi. Saat ini di tengah semakin majunya dunia teknologi, semakin berkembanglah dunia teknologi dalam urusan cetak mencetak buku. Pekerjaan menghasilkan sebuah buku memang dimulai dari menuliskan serangkaian kata menjadi cerita atau berbagai langkah-langkah yang praktis dalam menyusun sebuah karya non fiksi misalnya. Dan ketika sebuah naskah sudah dianggap selesai, kita bisa membuatnya menjadi buku.

Saya pernah mendengar bahwa alasan sebuah penerbitan bisa terus berjalan adalah dengan adanya penulis produktif yang juga menghasilkan sebuah karya bagus. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan karya yang dihasilkan oleh penulis, sebuah buku bisa dicetak dengan menarik, dan di sinilah kerja penerbitan. Melihat semakin menjamurnya penerbitan indie di Indonesia saat ini, penerbit major rasa-rasanya mendapatkan pesaingnya yang benar-benar sepadan. Berkaitan dengan mudahnya akses untuk menjangkau teknologi cetak offset dan digital printing, kini mencetak buku bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik para penerbit major. Penerbit indie dengan semangat mengusung idealisme yang tentu saja berbeda satu-dua hal dengan penerbit major menawarkan hal yang segar kepada pembaca kita dewasa ini.

Lantas apa yang membedakan kedua konsep tadi sekarang? Jika kita teliti lebih dalam saya rasa konsep major dan indie saat ini juga sudah tidak berbeda sama sekali. Karena keduanya melalui proses naskah yang sama hanya saja dalam penerbitan indie, porsi keikutsertaan penulis menjadi sesuatu yang penting. Penulis tidak hanya bertugas menulis dan menghasilkan karya tetapi juga perlahan mulai dikenalkan dengan apa-apa saja yang perlu dia ketahui untuk menjual karyanya. Dalam lingkaran yang paling kecil, penulis tentu ingin karyanya dibaca dan keluarga, teman menjadi sasaran pembaca yang paing pertama bisa kita sodorkan buku itu. Dalam hal apakah karya tulis itu menarik bagi pembaca secara luas saya rasa baik penerbit major atau indie mendapatkan perlakuan yang sama. Sebuah penerbitan indie juga mengalami siklus buku yang bisa laku terus dan cetak ulang berkali-kali atau bahkan menghasilkan buku yang menjual 100 eksemplar saja sulit sekali atau memakan waktu yang lama. Tidak semua buku indie jelek dan tidak semua buku major juga bagus. Saya rasa keduanya mengalami nasib yang sama. Beberapa penulis yang sudah mapan juga memilih mencetak melalui penerbitan indie dengan alasannya masing-masing. Tetapi ada juga penulis yang tidak bosan menulis dan mengirimkan naskahnya hingga bisa diterbitkan oleh penerbit major. Memperhitungkan jangkauan distribusi yang luas tentu menjadi salah satu daya tarik mengapa penerbit major lebih disukai dibandingkan dengan penerbit indie.

Kita bisa melihat bagaimana di Jogjakarta muncul penerbit-penerbit indie dengan semangat yang sama untuk memajukan literasi bangsanya menjadi sebuah gerakan yang bukan main-main. Buku-buku terbitannya pun tidak kalah menarik dengan buku dari penerbit major. Baik dari segi isi buku, cover dan bahkan distribusi mereka yang saat ini juga sudah merambha toko-toko buku besar. Tetapi untuk menyikapi hal terakhir ini saya rasa bukan menjadi persoalan yang terlalu krusial. Penjualan offline melalui toko-toko buku besar dengan jaringan luas di Indonesia saat ini menjadi salah satu pilihan saja dalam mendistribusikan sebuah buku.

Tidak kalah dalam hal itu, penerbitan indie juga mengakomodir penjualan online melalui kanal-kanal toko buku online yang secara jangkauan juga berada di mana-mana di kota besar di Indonesia. Bukankah dengan begini hal dalam penjualan dan distribusi bukan menjadi soal lagi? Saya pernah mendengar seorang berkata bahwa saat ini yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi dalam menciptakan sebuah karya. Sebuah karya seperti buku bukan saja kerja seorang penulis saja di jaman yang serba cepat seperti sekarang. Kerja kolaborasi dari berbagai pihak bisa menjadi sesuatu yang penting dan menarik untuk diperhatikan gerakannya dalam mengembangkan sebuah karya.

Kalau sudah begini, mungkin rasanya yang paling tepat untuk dilakukan dengan segera mungkin adalah bagaimana kita menghasilkan sebuah karya apapun sebanyak-banyaknya bukan? Karena selalu percaya seperti kata seorang CEO penerbit major yang saya kenal, buku yang bagus akan menemukan pembacanya masing-masing.

Jadi mana bukumu?

 

Bandung dan Dunia Literasinya

Saya selalu iri sekaligus bangga dengan lingkungan literasi yang semakin hari semakin tumbuh di Yogyakarta saat ini. Bagaimana tidak, semua tentang buku dan berbagai event digelar dari yang berbayar hingga yang gratis. Tetapi dengan gratis tentu saja tidak berarti acara yang digelar tidak bermutu. Justru banyak event buku atau bedah buku digelar secara gratis sekaligus bermutu tinggi.  Tapi tunggu, kenapa saya memulai tulisan ini dengan semua yang terjadi dalam dunia literasi Yogyakarta ya? Karena bisa jadi dalam hal itulah Bandung belum bisa menyamai pencapaian Yogyakarta dalam menggelar berbagai event atau menggerakkan komunitas literasinya.

Saya menulis ini tentu tidak untuk membanding-bandingkan lingkungan literasi yang ada di dua kota tersebut. Karena sejujurnya, siapalah saya yang dengan serta merta berusaha menilai kancah literasi dua kota besar itu. Yang menjadi menarik juga adalah bahwa komunitas yang ada di Bandung sebenarnya tidak sedikit, bahkan bisa dibilang banyak dan perlahan tapi pasti juga sedang menapakkan kakinya di dunia literasi bangsa kita. Tak perlulah menyebutkan secara spesifik beberapa komunitas yang tentu teman-teman sekalian sudah pernah datangi beberapa tahun belakangan ini. Semuanya saya rasa menarik dan patut untuk diapresiasi.

Dalam hal kaitannya dengan dukungan pemerintah, sudah ada bentuk konkret dari pemerintah kota Bandung untuk membuat sebuah perpustakaan kecil terletak di Lapangan Gasibu yang sudah tentu menjadi barang baru selama beberapa tahun terakhir ini di lapangan yang selalu menjadi tempat berkumpul anak muda tersebut. Dengar-dengar sebuah perpustakaan yang tak kalah besar juga sudah disiapkan di Alun-alun Bandung yang menjadi kebanggaan kota Bandung saat ini. Hal-hal ini tentu saja menjadi semacam dorongan bagi penggerak literasi di Kota Kembang dalam mengembangkan literasi di kotanya. Tentu saja  dengan adanya perpustakaan tidak serta merta membuat orang-orang berdatangan ke sana dan membaca buku. Harus ada sebuah langkah konkret yang dibuat oleh pemerintah untuk hal itu.

Kemudian muncullah wadah independen dari beberapa komunitas di Bandung yang menggelar berbagai event buku. Akhir tahun 2016 kemarin kita bisa melihat adanya sebuah event literasi yang jarang sekali kita bisa nikmati yang diadakan di Gedung Indonesia Menggugat, di acara yang berlangsung selama satu minggu penuh itu, pengunjung bisa bertemu dengan berbagai penerbit yang entah mengapa saat itu di dominasi oleh penerbit bukan dari Bandung, juga beberapa lapak buku khusus yang menggelar buku-buku langka dan patut dikoleksi. Tak kalah dari itu, berbagai diskusi dan pembacaan karya juga memenuhi jam pagelaran literasi tersebut. Secara pribadi baru kali itu saya melihat sebuah event yang digagas dengan unik, secara mandiri bisa menghasilkan acara yang berbeda dari pameran buku pada umumnya. Saya pikir hal inilah yang perlu dilakukan lebih sering di kota Bandung tercinta ini.

Lapak buku baik online maupun offline juga banyak di Bandung, perpustakaan yang konsisten dengan tema dan koleksi bukunya yang ajaib juga bisa ditemukan di kota ini. Lantas mengapa saya bilang dunia literasi Bandung masih kalah dari Yogyakarta? Bagaimana dengan dunia penerbitan indienya? Dalam hal ini saya rasa menjadi hal yang esensial dalam mengembangkan kancah literasi kota ini. Jika melihat kota Yogya yang memiliki banyak sekali penerbitan indie, sekaligus memunculkan banyak penulis baru dengan berbagai gaya tulisan, semakin memperkaya dunia buku di kota tersebut. Belum lagi ditambah dengan buku-buku terjemahan yang kualitasnya tidak kakalh dengan penerbit major. Lantas mengapa hanya sedikit sekali penerbitan mandiri yang ada di kota ini?

Jika melihat apa yang dikatakan salah satu teman yang memiliki penerbitan indie di kota Yogya, (saya rasa juga tak perlulah menyebutkan namanya di sini) penerbitan indie Yogya marak kembali karena biasanya mereka berangkat dari penjualan buku secara online yang mereka rintis, dengan semakin berkembangnya buku-buku dari berbagai macam penulis tersebut, membuat toko online ini pun perlu punya produk sendiri yang mereka kelola dengan baik sehingga ketika ada masa di mana buku kelompok penerbit major sedang tidak ramai, mereka tetap punya lini penjualan yang bisa mereka kontrol dengan mendorong produk-produk buku mereka sendiri. Saya rasa inilah yang perlu kita contoh di Bandung. Toh saya rasa anak mudanya juga cukup banyak, tak perlu disangkal lagi iklim kreatifitas di kota ini tumbuh subur di berbagai lini seperti musik, seni dan budaya. Lantas mengapa tidak dengan dunia literasinya?

Awal tahun ini saya mengikuti sebuah gerakan #1minggu1cerita yang digagas oleh sejumlah teman yang ternyata sampai sekarangmasih giat untuk mengembangkan gerakan ini. Saya tak punya prentensi atau harapan apa-apa dengan mengikuti ini selain hanya untuk mendorong saya lebih giat menulis karena kok rasanya kemampuan saya menulis juga menurun seiring banyaknya kesibukan setiap hari. Saya selalu rindu menulis cerita, memberikan pendapat saya secara jujur kepada selembar kertas kosong, membagikannya kepada mereka yang mungkin juga senang membaca dan kemudian menularkan virus menulis yang dengan begitu harapannya semakin banyak orang yang menulis, entah itu menulis cerita pendek, novel, artikel, hingga kemudian ada sebuah penerbitan yang berani menerbitkan kumpulan tulisanmu menjadi sebuah buku dan karyamu bisa dibaca banyak orang secara luas.

Semoga ikhitiar kecil ini bisa berguna untuk orang banyak, mari mulai menulis #1minggu1cerita

Salam.