John Steinbeck dan Red Pony

 

Jody Tiflin masih berumur 10 tahunan ketika akhirnya dia memiliki seekor kuda dengan surai merah yang kelak dia sebut sebagai Gabilan. Gabilan sendiri adalah nama gunung di Monterey County, California. Kisah anak kecil dengan kudanya ini ternyata tidak sesederhana yang kita bisa bayangkan. Ada berbagai pesan yang sedang disampaikan dalam kisah ini. Bagaimana anak kecil yang beranjak remaja belajar tentang hidup dan mati dalam sebuah lingkungan yang dikepalai oleh seorang ayah yang tegas dan cenderung konservatif mendidik seorang anak dalam sebuah peternakan yang mereka miliki. Saya membayangkan pastilah ada konflik-konflik antara ayah dan anak yang dari awal hendak dibangun oleh Steinbeck dengan sikap ayahnya yang kolot itu. Satu-dua pertentangan dihadirkan untuk membangun citra tersebut. Tetapi tidak seperti hubungan anak lelaki dan ayahnya yang sering kita jumpai, dalam buku ini Jody sendiri adalah anak yang penurut kepada semua perintah orang tuanya meski tentu saja selalu ada pertentangan dalam beberapa hal. Sosok ibu juga kadang tidak selalu menjadi sosok penengah yang bisa menarik garis batas di antara keduanya. Hadirnya Gabilan di keluarga kecil tersebut adalah sesuatu yang baru bagi Jody dan apa yang hendak diajarkan ayahnya kepadanya.

Saya melihat bagaimana Steinbeck yang besar di wilayah Salinas yang penuh dengan peternakan dan lingkungan yang jauh dari kota membuat banyak kisah Steinbeck memiliki akarnya dari sini. Of Mice and Men menjadi salah satunya. Meski Red Pony tidak serumit dalam Of Mice and Men, di buku ini kita akan menyadari bahwa cita rasa penulis terasa sekali tentang dari mana dia berasal. Memang sebaiknya seperti itu kan ya? Kita hanya menulis apa yang kita tahu, dari mana kita berasal, bagaimana kita bersikap akan hal-hal yang terjadi dalam lingkungan kita, dan menjadi manusia seperti apa kita kelak ditentukan dari hal-hal seperti ini. Red Pony tentu saja sebuah kisah manis yang patut ditunggu.

Advertisements

Charles Bukowski dan Post Office

 

 

Kayaknya asik banget kalo bisa nulis semau gue, merutuki semua hal, dan kemudian selalu bercinta. Hahaha. Ini kesan yang saya dapatkan ketika baca Post Office. Jadi ceritanya lagi senang belajar untuk menerjemahkan, milihnya yang pendek-pendek dululah. Biar enggak kehabisan napas di tengah jalan. Tahulah gimana tabiat penulis amatir. Post Office kocak banget, cerita keseharian tukang pos yang setiap saat kayaknya benci dengan apa yang dia lakukan. Mulai dari hal sepele kena hujan, digigit anjing, ketemu nenek-nenek yang selalu bertanya banyak hal. Semuanya bisa jadi bahan tulisan yang menarik dan tentu saja kocak luar biasa. Saya tak henti-hentinya senyum sendiri tiap ketemu adegan lucu yang sebenarnya justru amat miris. Di tengah semua kalimat yang ‘seenak gue’ itu Bukowski ternyata juga bisa lucu lho. Ajaib. Mengutuki nasibnya yang apes kehujanan dan kejebak banjir misalnya. Terus mikir gimana caranya biar bajunya cepat kering. Semua kalimat yang digunakan oleh Bukowksi dalam novel pendek ini sebenarnya tidak terlalu rumit, cenderung sederhana bahkan, semuanya menggunakan kalimat langsung yang seolah berdiri sendiri dan tanpa aturan itu tadi. Selama membaca ini saya jadi membayangkan Hank – sebutan kecilnya – sebenarnya hanya sedang ngomel-ngomel aja. Karena dia sadar bahwa dia sebenarnya tidak bisa berbuat apa-apa ketika itu. Yang dia lakukan ya cuma itu, merutuki semua hal yang tidak dia senangi. Menjadi bagian dari orang-orang yang harus memeras keringat demi sejumput kecil uang agar bisa dapat minum alkohol lagi, mabuk, dan bercinta lagi. Sudah banyak juga cerita yang bilang bahwa sebenarnya Hank menyesal sekali menghabiskan hampir sebagian waktu hidupnya untuk bekerja sebagai karyawan.

Yang tak kalah menarik juga adalah bagaimana Hank adalah seorang pemabuk yang luar biasa. Seolah-olah kita sedang berhadapan dengan orang yang sebenarnya hanya ingin hidupnya dihabiskan untuk bersenang-senang belaka (minum alkohol, merokok, dan bercinta). Semua kesenangan itu ingin selalu dia rasakan betapapun sulitnya hidup yang dia alami. Henry Chinaski si tokoh utama dalam Post Office ini bisa menjadi semacam cerminan dari diri Bukowski yang kurang lebih miriplah. Mabuk bisa hampir setiap hari, begadang hanya karena bercinta tapi tidak lupa juga untuk tetap bangun tepat waktu untuk sekali lagi harus masuk kerja. Kalo saya mah udah pasti enggak bisa, tidur pagi-pagi buta terus dua-tiga jam kemudian sudah harus bangun lagi untuk bekerja. Gile. Gimana jadinya itu orang yang hidupnya kayak gitu?

Merenungkan Masa Depan Literasi

Saya mendadak teringat dengan kalimat yang menjadi judul di atas itu ketika membaca buku 50 Kisah Tentang Buku, cinta, dan Cerita-cerita di Antara Kita karya mas Salman Faridi, CEO Bentang Pustaka. Tapi uniknya hal itu bukan secara langsung dikatakan oleh beliau dalam salah satu tulisannya di buku tersebut, kalimat itu muncul sebagai sebuah endorsement dari Dee Lestari yang tampil di halaman belakang buku tersebut. Dan lagi kalo diajak untuk merenungkan masa depan sebuah budaya literasi bangsa seperti Indonesia ini, rasa-rasanya kok apa yang mau saya kemukakan menjadi hanya satu di antara begitu banyak tulisan menarik dan informatif lainnya tentang gerakan literasi kita.

Pertama saya pribadi menyenangi buku yang ditulis mas Salman ini akhirnya terbit dan saya bisa puas bacanya. Rasanya seperti baru saja diberitahu akan sebuah dunia yang saya senangi dengan berbagai macam informasi baru dan tentu saja, aktual. Mas Salman sebagaimana setiap saya temui dan memiliki kesempatan untuk ngobrol selalu penuh dengan ide-ide dan cerita baru tentang apa saja. Dan hal paling menarik bagi saya tentu saja adalah tentang buku dan industrinya. Mempelajari industri ini dari seorang pemimpin penerbitan besar di Jogja secara langsung tentu menyenangkan.

Di tengah begitu maraknya bisnis penjualan buku secara online dan berkembangnya ebook, mas Salman menjadi salah satu orang yang masih setia dengan buku fisik meski tidak secara serta merta menyingkirkan perkembangan yang ada. Saat ini sudah berapa banyak buku elektronik yang bisa kita dapatkan di Playstore, terbitan Bentang Pustaka terutama.

Beliau berpendapat bahwa kunci utama memenangkan pertempuran dalam bisnis buku yang semakin kompetitif ini tidak lain kecuali menggaransi mutu konten. Sia-sia saja membugnkus konten yang busuk dengan penampilan yang cantik sebab pada akhirnya pembaca akan tahu dan kecewa berat.

Periode 1990-an menjelang runtuhnya rezim Soeharto kita sudah menyaksikan betapa banyak buku-buku dari pemikir kiri yang terbit meski karya monumental seperti Tetralogi Buru masih dijual secara diam-diam. Begitu juga dengan maraknya buku-buku terjemahan yang muncul hingga penerbitan rasanya tidak peduli lagi akan hak cipta sebuah karya dengan alasan memberikan sebanyak mungkin karya bermutu untuk dibaca. Baru-baru ini yang saya dengar adalah tentang naskah Pedro Paramo karya Juan Rulfo yang menjadi perbicangan di media sosial bahwa sebuah perusahaan penerbitan raksasa di Indonesia sudah mendapatkan hak terbitnya secara resmi dan penerbitan lain yang sebelumnya menerbitkan karya ini mendapatkan teguran akan terbitan Pedro Paramo yang tanpa izin mereka ini.

Saat ini lapak toko buku dibanjiri buku-buku terbitan media menulis bernama Wattpad dan yang lain sejenisnya, buku-buku ini selalu menampilkan bahwa karya A sudah dibaca oleh sekian juta orang. Penambahan label seperti ini rasa-rasanya seolah menjadi jaminan bahwa karyanya akan laku. Padahal kenyataannya tidak selalu begitu juga menurut saya. Ditengah gempuran buku Wattpad ini, saya rasa beberapa yang benar-benar laku. Karena sekali lagi, pembaca kita tentu merasa jengah dengan begitu mudahnya sebuah karya tampil dan menjadi buku, jika sudah mendapatkan label dibaca sekian juta orang di platform media tersebut. Memang dengan semakin berkembangnya teknologi, pertumbuhan menulis dan membaca seperti ini tidak bisa juga dihindari. Yang perlu kita lakukan adalah bagaimana beradaptasi secara terus menerus dan tidak mengabaikan konten yang dijual. Nanti kalo sudah begini, jangan-jangan kita juga akan melihat geliat yang sama pertumbuhan pasar fiksi remaja yang perlahan menurun. Industri cetak seolah harus patuh pada tren yang sedang terjadi pada pembacanya.

Yang dilakukan oleh mas Salman dan tim Bentangnya adalah dengan memunculkan sebuah bacaan yang bisa dinikmati sekali duduk, Snackbook namanya. Sebuah jeda ketika kita antri di bank, menunggu angkutan umum bisa digunakan oleh kaum pembaca milenial kita yang konon tak bisa lepas dari gawainya, untuk membaca sebuah cerita pendek misalnya. Dari sinilah kita sebagai orang yang peduli dengan gerakan literasi di Indonesia, untuk terus menumbuhkan minat baca anak-anak mudanya. Karena memang memprihatinkan sekali jika melihat minat baca anak muda saat ini yang hanya 0,001 yang artinya dari 1000 orang hanya ada 1 orang yang gemar membaca. Itu baru pekerjaan rumah yang sesungguhnya bagi kita di dunia literasi.  Bagi industri buku, volume pasar buku di Indonesia hanya sekitar 693 juta dolar yang dihimun dari 700-an toko buku secara nasional. Jumlah ini masih kalah jauh dibandingkan dengan Jerman yang jumlah penduduknya lebih kecil dari Indonesia, memiliki nilai pasar buku yang mencapai 4,64 miliar Euro, setara dengan 137 triliun rupiah. Yah, itu kalo buat Indonesia mungkin bisnis bisa untuk jangka panjang juga.

Jadi kalo sudah seperti itu apa yang bisa kita lakukan selain secara terus menerus bergerak bersama zaman dan beradaptasi dengan apa yang sedang terjadi pada budaya membaca kita. Saya rasa pasar buku Indonesia masih akan terus berkembang, seperti apa yang Dea Anugrah katakan dalam salah satu wawancaranya, saya tidak percaya kiamat karena dunia akan selalu berkembang.

Nah, kalo untuk yang satu itu, saya enggak bisa jelasin deh.

Bagaimana Sastrawan Melihat Gadgetisme Dalam Budaya Literasi Kita

Hari Selasa (21/2) kemarin salah satu sastrawan besar Indonesia yang saya idolai datang ke Galeri Soemardja Book Fair 2017 dan melakukan orasi kebudayaan yang menarik. Jarang sekali saya melihat Seno Gumira Ajidarma datang ke sebuah acara dan bicara tentang kebudayaan. Meski kemudian hal yang dia angkat kembali lagi ke dunia literasi kita secara umum dan budaya keberaksaraan kita secara khusus.

79e537178bd34aac65bbd356a64669dbFoto dari AyoBandung.com

Beliau menyoroti bagaimana gadgetisme menjadi hal yang cenderung menakutkan dengan begitu cepatnya perkembangan teknologi yang berimbas pada cara kita berkomunikasi sekaligus membaca. Teks datang silih berganti begitu cepat dan begitu banyak di hadapan layar ponsel kita. Seno melihat ini sebagai sebuah gejala yang memang tidak bisa dihindari tetapi seharusnya bisa kita sikapi dengan lebih jernih. Beliau berkisah bahwa ketika jaman sekarang telepon genggam menjadi bagian dari kehidupan kita, hal ini memunculkan budaya membaca cepat dan ringkas, membuat orang tidak bisa lepas dari telepon genggamnya.

“Kalo orang kita sekarang ini, kehilangan hape saja rasanya seperti sudah terputus dari dunia. Saya hidup di mana semua ini belum dimulai dan saya pernah merasakan kehilangan hape, dan dunia kok rasanya baik-baik saja.”

Ketika budaya membaca cepat dan ringkas ini semakin bergerak bebas, yang menjadi ancaman tentu saja dunia literasi kita. Indonesia sendiri masuk dalam urutan ke-3 terbesar dalam hal para pengguna media sosial Facebook, tetapi jika menyangkut minat baca kita yang masuk urutan 60 dari 61 negara yang disurvey di mana hanya ada 1 orang yang membaca di antara 1000 orang masyarakat kita hal ini yang disebut oleh Seno sebagai kelisanan sekunder. Karena sejatinya dengan serbuan berbagai macam teks di layar telepon genggam itu, kita tidak memiliki waktu untuk merenung dan melakukan refleksi diri. Yang ada hanya serapan visual akan apa yang disuguhkan orang lain kepada kita. Seno berkata pula bahwa dengan membaca kita bisa menjadi diri sendiri. Karena dunia dalam buku bacaan begitu kaya, imajinasi lebih mengambil peran dalam proses pembacaan, sedangkan budaya serapan visual hanya menyuguhkan berbagai macam hal yang hanya mampu kita terima. Akan lebih baik jika kita bisa memposisikan gadget saat ini sekadar sebagai alat.

Menyangkut maraknya berita hoax itu pula, beliau berkata bahwa,

“Dalam hoax tidak ada lagi refleksi yang ada hanya nafsu untuk memaki. Membuat orang menjadi fanatik itu bodoh akan tetapi orang yang pura-pura fanatik itu lebih jahat.”

Rangkaian berita yang entah bagaimana verifikasi kebenarannya itu disuguhkan di sekitar kita 24 jam setiap hari tanpa sempat lagi kita berpikir dan merefleksi diri.

Saat itu saya berpikir bahwa memang benar situasi yang ada di sekitar kita saat ini. orang harus pandai-pandai berstrategi untuk menyikapi bukan hanya begitu banyak konsumsi budaya visual dan budaya tulisan yang muncul dalam gadget kita setiap hari tetapi juga bagaimana kita bisa menyikapi dan mengambil jarak akan setiap informasi yang kita terima. Minta baca kita yang rendah menjadi sasaran paling empuk bagi para pemilik sumber berita untuk menyuguhkan apa saja ke dalam pikiran kita dan tak diberikannya waktu untuk berpikir. Padahal bagi seothrift rang penulis tentu saja kata-kata digunakan untuk mengakomodir gagasannya pribadi dalam menyampaikan pesannya kepada khalayak ramai. Imajinasi digunakan untuk melepaskan diri dunia rutinitas yang kita ketahui belaka. Ketik ruang untuk berimajinasi ditutup dan bahkan dikotak-kotakkan yang ada hanyalah sekumpulan orang yang dapat dengan mudah digiring pada suatu kepentingan tertentu.

Rasa-rasanya kepala menjadi perlu berhenti sejenak dan berpikir ulang tentang semuanya. Bagaimana hendak mengajak satu orang membaca buku jika layar telepon genggam terus dipegangnya dan menyuguhkan ragam tulisan ringkas dan cepat begitu banyak dan lebih menarik?

Pelan-pelan saya menjadi lelah meski tetap berusaha optimis.

Menulis atau Tidak Sama Sekali

Kalau melihat gelagat dari judulnya kok rasanya sombong sekali. Tetapi bukan itu juga sebenarnya maksud saya, ini lebih semacam niat. Seno Gumira Ajidarma pernah bilang dalam salah satu bukunya ketika ditanya bagaimana resepnya untuk bisa terus menulis berbagai macam cerpen yang hebat seperti itu beliau hanya menjawab,

“Boleh bisa apa saja termasuk menulis, boleh tidak bisa apa saja kecuali menulis.”

Dari situ rasanya pertanyaan yang diharapan mendapatkan jawaban yang melulu teknis dan penuh penghayatan akan bagaimana menulis yang baik dan terus menerus, rasanya luruh begitu saja. Seorang penulis besar dan salah satu sastrawan yang saya kagumi hanya menganggap bahwa tidak ada itu yang namanya resep sukses selain daripada melakukan hal itu terus menerus tanpa kecuali.  Karena kadang kita sebagai penulis kelas teri, berusaha menganggap bahwa para penulis hebat dan sastrawan lokal maupun internasional di jaman dulu tentu melakukan suatu hal yang luar biasa sehingga karyanya diakui di mana-mana. Kadang juga kita mungkin terlalu besar menganggap orang tersebut sehingga merendahkan diri kita sedalam mungkin untuk sekadar berharap bahwa kita pun juga bisa menghasilkan karya yang sama bagusnya atau lebih bagus dari mereka.

Sampai di sini, di mana kita berpikir tentang diri dan karya yang sudah kita hasikan selama ini?

Perjalanan seorang penulis dalam menghasilkan karya-karya yang luar biasa diakui di masanya memang berbeda-beda. Setiap orang punya ceritanya masing-masing dan gaya yang menjadi ciri khasnya. Sekarang persoalannya di mana kita bisa menemukan gaya dan ceritanya kita tersebut untuk kemudian disampaikan dalam berbagai cara yang kita pikir mampu? Kalo saya tentu ya hanya dengan menulis. Saya sendiri pernah mengalami di mana merasakan sekali kesenangan menulis dan bercerita macam-macam yang kadang kalo dipikir lagi, itu bukan cerita yang ingin saya sampaikan pada dunia. Mungkin lebih semacam saluran untuk mengasah bagaimana saya bercerita dalam tulisan. Saya menceritakan hal-hal kecil yang kemudian saya bermain dalam metafora di sana-sini dan bermain sesuatu yang sureal. Masa di mana setiap ide bisa diasah sedemikian rupa dan menghasilkan sesuatu yang saya inginkan. Dari situ saya bisa belajar lebih jauh memang, karena saya percaya momentum harus selalu diciptakan. Beberapa tahun belakangan ini saya malasa sekali untuk menulis, kesibukan mencari penghidupan yang lebih baik memenuhi jam-jam saya dan menulis rasanya menjadi sesuatu yang mewah untuk dilakukan. Sekarang semangat untuk kembali menulis kembali muncul di awal tahun. Membiasakan diri menulis dan bercerita apa saja menjadi bahan bakar awalnya. Saya ingin bisa menulis cerita pendek yang banyak lagi mengingat kini cerita pendek yang pernah saya buat hilang entah ke mana dan belum bisa diselamatkan.

Dan lantas kalo berpikir lebih jauh tentang menulis dan apa yang ingin kita sampaikan. Rasanya mengembalikan segala hal pada intinya yang sederhana menjadi terasa mudah. Kalo ingin menulis ya lakukan saja, tidak ada alasan lain untuk itu. Jika memang ada alasan lain artinya kita memang sedang tidak ingin betul menulis. Saya ingin menjadikan tulisan-tulisan saya sebagai sesuatu yang ingin saya wariskan ke pada orang banyak. Saya ingin dikenal melalui tulisan saya. Dan perasaan emosi semacam ini yang kadang mendorong saya untuk terus menulis sekarang meski belum menemukan momentumnya yang pas. Saya dibesarkan oleh seorang ayah yang wartawan senior, beliau menghabiskan separuh hidupnya bekerja sebagai buruh tinta dan saya ingat betapa saya dulu bangga beliau melakukan hal itu. Saya bangga bahwa dulu saya pernah bercita-cita untuk juga mengikuti jejaknya menjadi wartawan dan sesungguhnya saya pernah juga mencobanya. Jadi saya berpikir hanya dengan menulislah kita bisa dikenang dengan lebih baik. Ada karya yang akan dibaca orang jika kelak karya itu benar-benar disebar luaskan. Sesuatu yang sentimentil bukan?

Jadi kembali pada judul tulisan itu kembali, saya bilang bahwa ini adalah semacam niat yang saya ikrarkan pada diri saya sendiri. Berusaha mengingatkan diri saya bahwa tidak ada alasan lagi untuk menulis selain segera melakukannya. Dan saya selalu ingat kata SGA di awal tadi, saya harus bisa menulis dengan baik, itu saja. Kalau tidak, lebih baik tidak usah sama sekali.