Major atau Indie

Apa yang terbesit di pikiranmu jika mendengar kedua kata tersebut? Kali ini saya akan membahas sesuatu yang secara spesifik saya senangi, yaitu menulis dan dunia penerbitan yang kemudian kita bisa membaginya ke dalam dua konsep tadi. Saat ini di tengah semakin majunya dunia teknologi, semakin berkembanglah dunia teknologi dalam urusan cetak mencetak buku. Pekerjaan menghasilkan sebuah buku memang dimulai dari menuliskan serangkaian kata menjadi cerita atau berbagai langkah-langkah yang praktis dalam menyusun sebuah karya non fiksi misalnya. Dan ketika sebuah naskah sudah dianggap selesai, kita bisa membuatnya menjadi buku.

Saya pernah mendengar bahwa alasan sebuah penerbitan bisa terus berjalan adalah dengan adanya penulis produktif yang juga menghasilkan sebuah karya bagus. Dari sini kita bisa melihat bahwa dengan karya yang dihasilkan oleh penulis, sebuah buku bisa dicetak dengan menarik, dan di sinilah kerja penerbitan. Melihat semakin menjamurnya penerbitan indie di Indonesia saat ini, penerbit major rasa-rasanya mendapatkan pesaingnya yang benar-benar sepadan. Berkaitan dengan mudahnya akses untuk menjangkau teknologi cetak offset dan digital printing, kini mencetak buku bukan lagi sesuatu yang eksklusif milik para penerbit major. Penerbit indie dengan semangat mengusung idealisme yang tentu saja berbeda satu-dua hal dengan penerbit major menawarkan hal yang segar kepada pembaca kita dewasa ini.

Lantas apa yang membedakan kedua konsep tadi sekarang? Jika kita teliti lebih dalam saya rasa konsep major dan indie saat ini juga sudah tidak berbeda sama sekali. Karena keduanya melalui proses naskah yang sama hanya saja dalam penerbitan indie, porsi keikutsertaan penulis menjadi sesuatu yang penting. Penulis tidak hanya bertugas menulis dan menghasilkan karya tetapi juga perlahan mulai dikenalkan dengan apa-apa saja yang perlu dia ketahui untuk menjual karyanya. Dalam lingkaran yang paling kecil, penulis tentu ingin karyanya dibaca dan keluarga, teman menjadi sasaran pembaca yang paing pertama bisa kita sodorkan buku itu. Dalam hal apakah karya tulis itu menarik bagi pembaca secara luas saya rasa baik penerbit major atau indie mendapatkan perlakuan yang sama. Sebuah penerbitan indie juga mengalami siklus buku yang bisa laku terus dan cetak ulang berkali-kali atau bahkan menghasilkan buku yang menjual 100 eksemplar saja sulit sekali atau memakan waktu yang lama. Tidak semua buku indie jelek dan tidak semua buku major juga bagus. Saya rasa keduanya mengalami nasib yang sama. Beberapa penulis yang sudah mapan juga memilih mencetak melalui penerbitan indie dengan alasannya masing-masing. Tetapi ada juga penulis yang tidak bosan menulis dan mengirimkan naskahnya hingga bisa diterbitkan oleh penerbit major. Memperhitungkan jangkauan distribusi yang luas tentu menjadi salah satu daya tarik mengapa penerbit major lebih disukai dibandingkan dengan penerbit indie.

Kita bisa melihat bagaimana di Jogjakarta muncul penerbit-penerbit indie dengan semangat yang sama untuk memajukan literasi bangsanya menjadi sebuah gerakan yang bukan main-main. Buku-buku terbitannya pun tidak kalah menarik dengan buku dari penerbit major. Baik dari segi isi buku, cover dan bahkan distribusi mereka yang saat ini juga sudah merambha toko-toko buku besar. Tetapi untuk menyikapi hal terakhir ini saya rasa bukan menjadi persoalan yang terlalu krusial. Penjualan offline melalui toko-toko buku besar dengan jaringan luas di Indonesia saat ini menjadi salah satu pilihan saja dalam mendistribusikan sebuah buku.

Tidak kalah dalam hal itu, penerbitan indie juga mengakomodir penjualan online melalui kanal-kanal toko buku online yang secara jangkauan juga berada di mana-mana di kota besar di Indonesia. Bukankah dengan begini hal dalam penjualan dan distribusi bukan menjadi soal lagi? Saya pernah mendengar seorang berkata bahwa saat ini yang penting adalah bagaimana kita bisa berkolaborasi dalam menciptakan sebuah karya. Sebuah karya seperti buku bukan saja kerja seorang penulis saja di jaman yang serba cepat seperti sekarang. Kerja kolaborasi dari berbagai pihak bisa menjadi sesuatu yang penting dan menarik untuk diperhatikan gerakannya dalam mengembangkan sebuah karya.

Kalau sudah begini, mungkin rasanya yang paling tepat untuk dilakukan dengan segera mungkin adalah bagaimana kita menghasilkan sebuah karya apapun sebanyak-banyaknya bukan? Karena selalu percaya seperti kata seorang CEO penerbit major yang saya kenal, buku yang bagus akan menemukan pembacanya masing-masing.

Jadi mana bukumu?

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s