Di Balik Kampung Halaman

Saya lama berpikir tentang bagaimana menulis tentang kampung halaman atau seperti kebanyakan orang yang dengan mudah bisa bercerita banyak tentang berbagai macam hal di kampung halamannya. Saya menemukan bahwa saya sendiri sebenarnya tidak merasa punya kampung halaman. Jika yang dimaksud dengan kampung halaman adalah sebuah tempat di mana kita pulang ketika lebaran, berkumpul dengan semua sanak saudara di tempat kita pernah lahir dan tumbuh besar, saya merasa tidak punya tempat seperti itu.
Lantas kalo saya lebaran, mudik ke kampung mana? Nah kalo ini juga baru saya rasakan dua tahun terakhir di mana saya sudah beristri orang Magelang yang dari situ, saya jadi punya kewajiban untuk menemani istri pulang kampung ke Magelang, di Salaman tepatnya. Tetapi jauh sebelum itu, saya tidak merasa punya kampung halaman. Saya memang lahir dan besar di Jakarta, ibukota negara kita tercinta. Tapi kok rasanya juga pulang mudik ke Jakarta itu tidak menjadi salah satu agenda saya dan keluarga dulu ketika musim mudik tiba. Memang saya punya keluarga besar di sana, tetapi tidak semuanya di sana.

 

Saya sudah 12 tahun tinggal di Bandung dan selama sepuluh tahun saya mengalami lebaran pula di sini. Tidak ke mana-mana selain berkunjung ke keluarga besar di daerah Caringin. Keluarga ayah saya dari Padang, dan sebagaimana keluarga Padang lain, kami lebih memilih berlebaran di tanah rantau daripada di kampung halaman. Hampir sebagian besar keluarga besar ayah saya ada di Bandung dan di sinilah kami biasanya berlebaran.

 

Kalau membayangkan kampung halaman di mana daerah itu berarti kampung, desa atau tempat yang jauh dari kota, keluarga besar ayah saya punya hal itu. Kampungnya bernama Rao-rao, sebuah kota kecil di Payakumbuh, Sumatera Barat. Keluarga besar di sana masih memiliki sebuah rumah gadang yang entah sudah berapa lama bertahan dan diwariskan dari generasi ke generasi. Rumahnya terakhir kali kami ke sana, masih terlihat kokoh, ayah saya bilang kayunya dulu berasal dari pohon jati yang kokoh, di sebelah kanan bangunan rumah gadang ada lumbung padi tempat biasa dulu keluarga kami menimbun gabah. Ada batu besar di depan rumah tersebut yang dulu sering menjadi tempat saya dan adik-adik bermain dan memanjat batu tersebut sakin tingginya.

 

Rumah itu tidak ada kamar mandinya ketika itu, sehingga untuk urusan kamar mandi dibuatkan sebuah kamar mandi di luar bangunan yang berjarak tak jauh dari rumah. Sejauh yang saya ingat, air di sana sangat dingin, jam enam pagi masih serupa subuh, karena embun masih menyelimuti daerah tersebut. Sedikit sekali pengalaman saya tentang rumah tersebut, saya ingat wujudnya, kayunya, lantainya yang berderit ketika kita berjalan di dalamnya. Kata ayah saya, rumah itu memiliki 7 kamar yang bersekat-sekat. Menurut orang Padang, rumah itu diwarisi kepada anak perempuan dalam keluarga, karena di sana menganut budaya matrilinial. Anak wanita di sana mendapatkan hak waris lebih banyak dari anak lelaki.

Sudah lama sekali kami tidak pergi ke Padang, saya pikir ketika saya masih di sekolah dasar terakhir kali kami menyambangi kampung halaman. Ketika kehidupan menuntun kita untuk mengambil jalan berbeda di kota yang jauh, di sanalah kita menuju. Orang Padang seolah sudah menjadi keharusan bagi mereka untuk merantau, begitulah yang saya lihat terjadi dalam keluarga besar ayah saya di Padang. Sekarang sebagian besar saudara ayah sudah di Bandung. Saya lahir dan besar di Jakarta dengan segala macam problematikanya dekade 80-90an, mengikuti jejak ayah saya yang mencari penghidupan di kota lain, kami pindah ke Jogjakarta selama empat tahun, merasa senang dan nyaman di kota pelajar tersebut dan sekarang di Bandung.

 

Jadi ketika saya ditanya orang mana? Kampungnya di mana? Sejujurnya saya tidak tahu harus menajwab apa, karena itu saya selalu merujuk pada asal usul kedua orang tua saya. Ibu saya juga mengalami pengalaman yang saya. Dari Malang keluarganya pindah ke Jakarta dan besar di sana. Merunut perjalanan kembali ke kampung halaman pasti selalu menarik dan penuh dengan cerita-cerita. Saya juga selalu senang sekaligus bingung ketika menjawab pertanyaan asal dan kampung halaman. Tetapi saya pikir-pikir lagi kampung halaman kita bisa jadi ada di mana saja tempat di mana kita bisa selalu merasa ada di rumah. Di mana tidak ada lagi rutinitas yang harus kita kerjakan, bertemu dengan orang-orang baik dan mereka yang mengenal kita dengan baik. Saya menemukan itu di Jogjakarta dan Magelang saat ini ketika saya selalu pulang beberapa bulan sekali ke dua kota tersebut.

 

Kalau sudah seperti ini, saya jadi benar-benar ingin pulang.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s