Filosofi Kopi dan Adaptasi Cerita

Beberapa hari yang lalu saya baru saja menonton salah satu film Indonesia yang tidak kalah menarik di antara serombongan film-film dari Hollywood yang kali itu memadati lantai bioskop di tanah air. Film itu adalah Filosofi Kopi yang diangkat dari cerita pendek karya Dewi Lestari berjudul sama. Belakangan ketika orang-orang Indonesia membuat sebuah film yang diangkat dari sebuah buku atau cerita pendek, hasil yang diharapkan jauh dari menarik. Saya melihat hal itu dari karya perdana Dee lainnya yang juga diangkat ke layar lebar, Supernova: Ksatria, Putrid dan Bintang Jatuh.

Tetapi kemudian apa yang saya temukan dalam film ini benar-benar memuaskan dan menjatuhkan pandangan orang terhadap sebuah karya film yang berdasarkan sebuah buku atau cerita pendek semacam Filosofi Kopi ini. Dibintangi oleh aktor-aktor muda berbakat semacam Rio Dewanto dan Chico Jerico membuat film ini bisa jadi daya tarik tersendiri bagi penonton remaja. Kisah dua orang sahabat yang menggilai dunia kopi dan bersama-sama membangun sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi ini benar-benar menggugah selera bagi mereka yang melihatnya. Menarik melihat bagaiman sebuah kedai kopi yang dipimpin dua orang anak muda ini kemudian harus berurusan dengan kenyataan untuk mengurus sebuah kedai kopi secara real atau secara idealis? Dan hal inilah yang kemudian semakin meruncing di antara kedua tokoh utamanya. Balutan kisah awal yang sejatinya tidak terlihat begitu kompleks dalam pandangan saya ketika diangkat ke layar lebar menjadi sebuah cerita yang lebih menarik lagi.

Bisa jadi saya malah menggemari kisah Filosofi Kopi dalam bentuk layar lebar ini ketimbang versi aslinya yang lebih sederhana dan memenuhi semua syarat sebagai sebuah cerita pendek. Ketika melihat siapa penulis yang mengangkat karya sederhana ini ke dalam layar lebar, Jenny Jusuf, kemudian saya bergumam bahwa beliau telah berhasil membuat sebuah kisah dengan cerita yang unik dan sederhana ini menjadi cukup menarik lagi untuk dinikmati di layar besar. Bagaimana kemudian muncul perbedaan-perbedaan yang dihadirkan di dalam film tentu saja adalah dengan tujuan memperkaya cerita lebih baik lagi. Seperti tentang bagaimana ternyata Ben memiliki masa lalu yang kelam dan ambisinya terhadap kopi mengantarkannya bertemu dengan Jodi dan lantas terbentuklah kedai kopi Filosofi Kopi yang menjadi kebanggaan mereka berdua itu. Kemudian kehadiran tokoh baru bernama El yang digambarkan sebagai seorang Q grader yang kerjanya berkeliling dunia untuk mencicipi kopi menjadi semacam penghubung bagi kelanjutan cerita hingga pertemuan mereka dengan pak Seno. Semua ini menghasilkan sebuah film adaptasi yang menarik dan berhasil menurut saya. Tidak hanya dalam segi memperkaya cerita dan pengembangannya tetapi juga dalam hal mengemas cerita yang sudah ada menjadi sebuah tontonan yang tidak kalah menariknya dari versi aslinya.

Tidak heran kemudian penulisnya sendiri memberikan apresiasinya yang paling tinggi sebagai sebuah film adaptasi dari karyanya yang menjadi favoritnya sepanjang ini. Kita bisa melihat bagaimana sebuah apresiasi karya yang berbeda di tangan orang lain menjadi sebuah karya lain yang justru memperkaya nilai dari karya aslinya dalam film Filosofi Kopi ini. Angga Sasongko sendiri sebagai sutradara juga tidak kalah peranannya dalam membuat Filosofi Kopi semakin menarik untuk ditonton. Bagaimana detail tentang meracik kopi dan suasana kedai kopi yang selama ini kita ketahui mendadak menjadi terlihat menarik bagi orang lain dan bisa jadi dicontoh oleh kedai kopi lainnya.

Pada akhirnya saya merasa bahwa sebenarnya Indonesia tidak kalah dengan negara lain dalam hal kreatifitas dan berkarya seni. Film-film Indonesia saat ini tidak kalah menarik dengan film-film produksi luar negeri yang setiap hari membombardir kita itu. Jadi tidak ada salahnya jika kita menonton hasil karya dari negeri sendiri dengan cerita yang bahkan Indonesia sekali bukan? Atau bisa jadi kita perlu lebih serius untuk menikmati karya-karya dalam negeri yang ada seperti juga Ben yang tidak pernah becanda soal kopi.

Gue gak pernah becanda soal kopi.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s