Budi Darma dan Orang-orang Bloomington

Saya akhirnya menamatkan membaca buku lama yang baru saya temukan lagi ini, Orang-orang Bloomington. Lama sekali saya pikir, jangka waktu saya menamatkan buku ini dari awal hingga akhir. Saya pikir salah satu hal yang membuat saya lama sekali melahap buku ini adalah karena cara bercerita sang penulis, Budi Dharma yang begitu lambat dan bisa jadi cenderung membosankan di awal setiap ceritanya. Saya mengagumi Budi Dharma melalui karya beliau lainnya, yaitu Olenka. Yang dari situlah saya melihat bahwa Budi Dharma cukup menarik juga ketika menulis cerpen dan cerpen pertama beliau yang saya baca adalah Lelaki Pemanggul Goni yang muncul dalam kumpulan cerpen Kompas beberapa tahun yang lalu.

Melihat tema dan gaya cerita yang menarik ini kemudian saya membaca Orang-orang Bloomington dan tanpa sadar saya menarik diri dalam beberapa halaman pertama cerita dalam buku tersebut. Bukan hanya karena beliau menuliskan sesuatu secara panjang dan berbelit-belit tetapi juga karena beliau berusaha menyusun satu demi satu plot yang ada dari awal cerita hingga akhirnya menemukan bangunan utuh cerita yang dimaksud. Ketika membaca buku ini dan semakin dalam saya membacanya saya meyakini bahwa bisa jadi, Budi Dharma ketika bercerita juga melalui serangkaian awal dan kronologis yang begitu panjang untuk sampai pada inti ceritanya. Saya teringat dengan apa yang dilakukan oleh ayah saya (dan bisa jadi saya juga demikian). Ayah saya ketika beliau bercerita, beliau selalu merunutkan apa yang dia ceritakan itu dari awal sekali. Sehingga kalau dipikir-pikir, bagian prolog dan awal cerita itu sebenarnya tidak ada sangkut pautnya dengan inti cerita yang ingin dia bagikan. Dan hal inilah yang saya temukan dalam cerita-cerita yang begitu banyak berakhir tragis dalam kisah Orang-orang Bloomington ini.

Ada begitu banyak sebab, akibat, peranan orang-orang tertentu yang sampai satu titik membuat kita merubah keputusan kita dalam banyak hal. Hal inilah yang penulis berusaha utak-atik selama perjalanan cerita para tokohnya. Mengingat buku kumpulan cerpen ini hanya berisi tujuh cerita pendek, jadilah bisa ditebak jika setiap cerpen sendiri bisa menghabiskan beberapa halaman yang panjang. Jangan heran ketika kebanyakan dari pembaca cerita pendek sekarang berharap untuk membaca sebuah cerita pendek dengan rata-rata 5-7 halaman saja, kemudian ketika membaca Orang-orang Bloomington menjadi cepat haus dan lelah mendapati panjangnya satu cerpen dalam buku ini. Sekarang mana yang salah? Ekspektasi kita akan sebuah cerita pendek yang memang benar pendek atau hanya napas kita saja yang pendek ketika berhadapan dengan satu jenis cerita pendek lainnya?

Dalam kaitannya dengan pengembangan bacaan kita saat ini, saya ingin menjadi seorang pembaca yang terus tumbuh dengan membaca buku-buku hebat dari penulis yang juga hebat. Tidak berhenti hanya dalam tahap sekedar ingin sebuah hiburan dalam sebuah buku bacaan tetapi juga mendapatkan sesuatu darinya. Semoga.

 

Advertisements

2 thoughts on “Budi Darma dan Orang-orang Bloomington

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s