Lelaki di Balik Semak Ilalang

Kepalnya menguat, tatapannya setajam belati. Dengus nafasnya seolah tak jemu, dalam hatinya ingin bergerak dan menghentikan wanita itu pergi. Di batas antara laut dan daratan, lelaki itu berdiri memandang di balik semak ilalang pada satu kejadian. Seratus meter dari tempatnya berdiri, dia melihat wanita yang dia cintai hendak naik ke sebuah sampan kecil. Sebuah sampan yang biasa digunakan nelayan menjaring ikan. Seorang pria kurus menunggu wanita itu naik. Hari telah pudar, gelap hendak mengatup. Kedua sosok manusia di hadapannya justru seperti hendak merayakan pertemuan.

Mungkin berlayar.

Mungkin bercinta.

Tapi lelaki itu tahu siapa lelaki yang berdiri di sampan, Sukab namanya. Wanita yang hendak naik sampan itu, yang kemudian disadarinya telah dicintainya begitu rupa, Hayati namanya. Orang sekampung sibuk mempertanyakan ke mana dua sejoli itu pergi dan bagaimana kisah rumah tangganya tapi mereka tidak memperdulikan tentang lelaki di balik semak ilalang itu. Lelaki yang sebenarnya mampu berbuat sesuatu, mungkin mencegah Hayati pergi bersama Sukab. Lelaki yang kelak, seluruh kampung, dan bahkan Hayati sendiri akan menyadari betapa cinta jika sudah jatuh tak pernah akan menjauh.

*terinspirasi dari cerpen Cinta di Atas Perahu Cadik, SGA.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s