[Review Buku] Berdamai Dengan Hidup yang Getir

“Antara Jakarta dan Los Angeles barangkali bukan jarak yang jauh buatku, tapi antara tubuh lelaki dan perempuan, kau akan tahu, ada jarak yang terlampau jauh untuk kutempuh.” –Hal 88.

Barangkali beginilah yang berusaha Eka Kurniawan sampaikan tentang sekelumit kisah hidup para tokoh-tokohnya dalam buku kumpulan cerpen “Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi.”Bagaimana pada akhirnya kegetiran hidup yang kita alami benarlah nyata dan sebaik apapun kita menjalaninya, kegetiran itu pastilah harus kita lewati. Eka Kurniawan yang merupakan salah satu penulis Indonesia dengan karya-karya yang unconventional, seperti pujian yang dilontarkan oleh The Jakarta Post, kali ini menerbitkan kembali 15 cerita pendeknya yang memukau.

Ke-15 cerita pendek dengan lika-liku kehidupan bukan hanya tentang manusia tetapi juga tentang bagaimana binatang-binatang mengalami sebuah kisah yang diambil dengan sudut pandang yang tidak biasa oleh sang penulis. Dalam cerpen Gincu ini Merah, Sayang, Eka berusaha menceritakan tentang pahitnya kehidupan rumah tangga seorang mantan wanita tuna susila yang kemudian berusaha mendapatkan kebahagiaan melalui pinangan seorang pelanggannya. Dibayang-bayangi oleh kehidupan masa lalu yang begitu lekat di antara dirinya dan sang pelanggan, kecurigaan muncul perlahan-lahan dalam rumah tangga mereka. Prasangka antara satu dan lainnya membuat Marni, keluar malam untuk mencari suami yang dicurigainya tersebut dan lantas mendapatkan kepahitannya yang lain.

Begitu pula yang terjadi pada sosok perempuan bernama Maya yang patah hati ditinggal kekasihnya pada cerpen Perempuan Patah Hati yang Kembali Menemukan Cinta Melalui Mimpi, dengan berbekal mimpi yang didapatnya terus menerus, Maya mencari cintanya tersebut sampai ke tepi pantai di sebuah kota. Sebelum akhirnya menyadari bahwa cinta yang dia cari ternyata tidak ada di sana.

Lebih unik lagi apa yang dialami oleh tokoh utama dalam kisah Pelajaran Memelihara Burung Beo, sebuah pelajaran penting telah diambil sang tokoh dengan perbandingan yang meski terlampau sederhana, tetapi begitu kuat membekas dalam dirinya tentang apa yang selama ini dia alami dalam hidupnya. Menjadikan burung beo sebagai subtitusi keberadaan anak dalam hidupnya yang hampir sempurna ternyata menyisakan tragedi di akhir cerita.

“Satu pelajaran lagi diperoleh Mirah demi mengenang saat itu: jangan pernah jatuh cinta hanya karena lama tinggal di bawah satu atap. Juga jangan jatuh cinta hanya karena lama berbaring di atas ranjang yang sama. Yang paling tolol dari semuanya adalah, menurut Mirah, jangan punya anak hanya karena jatuh cinta.” –hal 153.

image

Bagaimana para tokoh-tokoh ini menghadapi pasang dan surut kehidupan dalam kisah-kisahnya begitu menarik untuk ditelusuri. Berusaha berdamai dengan kegetiran yang pada akhirnya harus kita terima menjadi pelajaran kunci dari kisah-kisah tersebut. Bisa jadi bahkan ketika semua kisah dan tragedi yang hadir itu berlalu kita masih harus tetap berdiri dan hidup yang masih panjang ini masih perlu untuk diteruskan bagaimanapun keadaannya. Beberapa kisah tentang binatang yang berusaha Eka main-mainkan dalam ceritanya sedikit banyak menggambarkan tentang bagaimana manusia kadang terlampau berkuasa dan menindas terhadap sesama makhluk hidup yang ada di muka bumi.

Terlihat dalam beberapa cerpen seperti, Membuat Senang Seekor Gajah, Setiap Anjing Boleh Berbahagia, dan Kapten Bebek Hijau. Ketiga cerita pendek yang berusaha mewakilkan apa yang dirasakan oleh binatang-binatang yang menjadi objek dalam kisah tersebut. Seperti tidak mungkin seekor gajah menjadi senang ketika kemudian dipotong-potong oleh dua orang anak kecil hanya untuk memenuhi keinginan sang gajah untuk masuk ke dalam kulkas. Atau ketika seekor bebek berwarna kuning yang lantas karena suatu kejadian membuat bulu kuning yang menjadi kebanggannya tersebut berubah warna menjadi hijau, sang bebek pun dengan kegigihannya mencari jalan keluar agar bulunya menjadi seperti semula. Dari ketiga cerpen tentang binatang ini, kisah tentang anjing yang buduk yang mencari kebahagiaan dari seorang wanita yang kemudian membuat dirinya ‘terbuang’ seperti apa yang dirasakan oleh sang anjing benar-benar menarik. Yang pada akhirnya membuat kita menyadari bahwa ketika keterasingan itu dirasakan oleh manusia, ternyata kita bisa memberikan kebahagiaan yang sama pada mahkluk hidup yang lain, sekedar untuk menghapus rasa keterasingan manusia itu sendiri.

Para penggemar karya Eka Kurniawan tentu menanti-nantikan karya kumpulan cerpen ini dengan senang mengingat dalam jurnal blognya sendiri, Eka berkata bahwa menerbitkan satu kumpulan cerpen dalam setahun dirasa cukup bagi dirinya. Dan inilah ke-15 cerita pendek yang menurut saya tidak kalah dengan karya-karya besar Eka Kurniawan lainnya. Sehingga ketika pada akhir membaca karya ini, orang yang bahkan belum pernah bersentuhan dengan karya-karya beliau pun akan sependapat dengan apa yang dikatakan oleh The Jakarta Post tentang penulis Indonesia satu ini, “an unconventional writer.”

Salam.

Advertisements

3 thoughts on “[Review Buku] Berdamai Dengan Hidup yang Getir

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s