Kata-kata Memasuki Dirimu

Saya memikirkan tentang apa yang telah disampaikan oleh Dee Lestari ketika saya menghadiri Dee’s Coaching Clinic yang diadakan oleh Bentang Pustaka baru-baru ini. Saat itu saya mengikuti kelas menulis singkat tersebut di Solo yang menjadi kelas pertama yang beruntung mendapatkan kedatangan seorang Dee Lestari untuk mengetahui bagaimana proses kreatif yang beliau lakukan dalam menulis karya-karya hebatnya selama ini.

Kelas dimulai pada pukul 8.30 pagi hari di sebuah hotel mewah bernama Hotel Sunan di salah satu sudut kota Solo. Sebelum menghadiri kelas tersebut, perjalanan saya telah dimulai jauh sebelumnya, karena saya berasal dari Bandung dan sampai di Jogja, baru kemudian berangkat menuju Jogja dengan mengendarai sepeda motor pada pukul 5.30 pagi hari itu. Singkat kata, apa yang saya dapatkan ternyata benar-benar bermanfaat dan memang jarang sekali kita bisa mengetahui bagaimana proses kreatif dari seorang Dee Lestari dalam sebuah sesi khusus yang berlangsung selama hampir dua setengah jam tersebut.

IMG_20150315_075520

Ada beberapa hal yang saya tangkap selama proses sharing tersebut. Dan ini sebenarnya adalah salah satu hal yang sebelumnya sudah saya pahami terlebih dahulu. Tidak hanya hal ini terjadi dan dilakukan oleh beberapa penulis hebat, bisa jadi, bahkan hal ini adalah apa yang selalu para penulis di dunia lakukan terhadap karyanya dan bagaimana dia bisa berhasil sejauh yang dia harapkan. Dalam kasus Dee Lestari, saya pun melihat pola yang sama yaitu, ketekunan. Saya rasa kalau kita berbicara tentang hal apa pun, tidak selalu tentang bagaimana menjadi seorang penulis, semua bidang pun menuntut sebuah ketekunan. Yang dialami oleh Dee pun begitu, berangkat dari karirnya sebagai seorang public figure, menjadi penyanyi dan dikenal luas, lantas berusaha menerbitkan sebuah novel, beberapa cibiran datang padanya ketika itu. Beliau mengisahkan bagaimana sebenarnya dia tidak menempuh jalur konvensional dengan mengirim naskahnya ke penerbit-penerbit major, tetapi beliau menerbitkan sendiri naskahnya tersebut. Yang dengan kata lain, beliau tidak pernah mendapatkan penolakan dari penerbit ketika dinilai bahwa karyanya tidak layak terbit. Dan begitulah bagaimana beliau memulai karir kepenulisannya di Indonesia.

IMG_20150315_102040

Beberapa pembaca dan die hard fansnya yang sejak awal mengikuti karir kepenulisan beliau tentu mengetahui bahwa Supernova: Ksatria, Puteri dan Bintang Jatuh kemudian menjadi perbincangan di kalangan pembaca saat itu. Dee pula mengungkapkan bahwa pertama kali beliau mencetak sendiri Supernova KPBJ itu, jumlahnya 5 ribu eksemplar dengan modal yang berasal dari kantongnya sendiri kemudian memberanikan diri untuk mencetak ulang buku tersebut sebanyak 2 ribu eksemplar sebagai tambahan. Masalah kemudian muncul ketika tanpa disangka, Supernova diminati oleh pasar pembaca saat itu. Barulah kemudian beliau berpikir untuk mencari penerbit yang cocok untuk menerbitkan Supernova.

Beberapa peserta yang hadir dalam kelas menulis singkat itu ada yang bertanya tentang proses kreatif Dee. Salah satu yang beliau tekankan dalam membuat sebuah cerita adalah sebuah rumus yang dikenal sebagai Drama 3 Babak. Rumus ini menurut beliau adalah sebuah cara yang semestinya kita, sebagai manusia sosial sudah begitu paham karena akan dengan secara alami melakukannya ketika kita berbicara dengan orang lain. Beliau menjelaskan bagaimana ketika kita bercerita, selalu ada sebabnya, latar belakang. Dan di sanalah kita mulai cerita kita, ada bagian kedua yang menjadi bagian panjang dari cerita kita lantas diakhiri dengan klimaks atau penutupan. Setiap cerita yang bagus, menurutnya selalu memakai rumus ini.

Kemudian tentang motivasi kenapa kemudian seorang Dee Lestari menulis, menurutnya menulis adalah suatu cara untuk berbagi dan baginya hal-hal tentang spiritualitas, manusia, dan lingkungan adalah hal yang menjadi daya tariknya ketika berbagi dalam tulisan. Dalam rangka membangun cerita, Dee berpesan bahwa seorang penulis yang baik haruslah punya keyakinan atas apa yang ditulisnya, meskipun yang ditulisnya adalah sebuah karya fiksi yang di dunia nyata tidak ada. Karena dengan penulis punya keyakinan akan apa yang ditulisnya, hal ini akan tertular kepada para pembacanya. Dee menggambarkannya sebagai “seolah-olah ada di sana dengan yakin” ada sebuah terminologi yang beliau sampaikan ketika itu, yaitu apa yang disebut sebagai Verisimilitude yaitu sebuah karya fiksi yang terasa nyata. Hal inilah yang kadang membuat pembaca meskipun berada posisi sebagai penikmat karya tetapi kadang mampu memiliki keyakinan bahwa apa yang ditulis oleh seorang penulis itu adalah benar adanya bahkan kadang melebihi keyakinan penulisnya sendiri.

IMG_20150315_093636

Beberapa peserta ada pula yang bertanya tentang teknis menulis seperti riset. Sejauh mana seorang penulis dapat melakukan risetnya? Kali ini Dee menjelaskan bahwa saat ini, di tengah maraknya media internet, kita dapat dengan mudah mendapatkan informasi melalui media tersebut. Sehingga kadang kala dengan bermodal internet saja, berbagai informasi dapat dengan mudah kita temukan jika kita tahu apa yang ingin kita cari. Lantas wawancara dengan narasumber juga menjadi sesuatu yang penting, jika kita tidak tahu mengenai suatu tempat, bagaimana rasanya berada dalam suatu kondisi di suatu negara yang kita belum pernah datangi, kita bisa mencari orang yang sudah lebih dulu singgah ke tempat tersebut. Dan di sinilah wawancara menjadi penting. Jika tempat tersebut dekat dan mudah dijangkau, kita bisa melakukan kunjungan untuk mengetahui lebih detail tentang tempat yang dituju. Hal ini dilakukan oleh Dee ketika beliau melakukan riset dalam Supernova: Gelombang. Dikatakan bahwa beliau mendatangi tempat tersebut karena konon katanya di Sianjur Mula-mulalah suku pertama bangsa Batak diturunkan. Dan untuk mendapatkan situasi, kondisi dan lingkungan yang dia inginkan dalam cerita Gelombang itu, beliau menyempatkan diri untuk singgah.

Setelah riset cyber, wawancara dan kunjungan dilakukan, satu hal lagi masih perlu dilakukan untuk mendapatkan riset yang menyeluruh untuk cerita kita yaitu riset pustaka. Bacalah sumber-sumber dari buku yang berhubungan dengan apa yang kita cari. Mengetahui apa yang ingin kita cari sekali lagi menjadi penting di sini.

Ada pula ketika sesi tanya jawab, salah satu peserta bertanya tentang bagaiman membangun sebuah karakter yang bagus. Dee menjawab bahwa karakter yang bagus adalah gabungan dari seseorang yang biasa saja dan seseorang yang tidak biasa. Kita kadang terlalu berimajinasi dengan bebas sehingga kadang lupa bahwa karakter yang kita ciptakan dalam cerita-cerita kita perlu untuk menjadi biasa. Dalam artian bahwa karakter kita harus dapat disentuh dan dibayangkan seperti apa wujudnya. Dengan ini pembaca akan mudah untuk relate dengan apa yang dialami oleh si karakter tersebut.

IMG_20150315_125739

Salah satu yang sangat berkesan bagi saya ketika mendengar Dee Lestari berbicara dan sharing tentang kepenulisan saat itu adalah tentang bagaimana pentingnya ketekunan dalam menulis. Karena baginya semakin sering kita menulis akan semakin sering kita belajar untuk menulis lebih baik lagi. Bahkan kadang Dee sendiri merasa, menurutnya bukan dia yang menulis Supernova sejak awal. Hal ini berkaitan dengan bagaimana kita mengolah ide. Dee berkata bahwa menurutnya ada semacam “hantu” yang kemudian menyuruhnya untuk menuliskan kisah Supernova tersebut. Dan kita semua tahu betapa hebatnya kisah Supernova yang saat ini sudah sampai seri ke 5. “Hantu” inilah yang kemudian membuat Dee menghasilkan karya-karya hebat lainnya. Inilah yang kemudian saya tangkap sebagai sesuatu yang lain yang memasuki diri kita.

Dee menggambarkan bahwa ide itu seperti “hantu” tersebut. Dan kita sebagai penulis hanyalah seorang “budak” yang kemudian menyalurkan apa yang diperintahkan oleh “hantu” tersebut. Saya membayangkan bahwa sebenarnya ide-ide itu berada di mana saja. Bukan kita yang kemudian mengambilnya dan menuliskannya dalam karya-karya kita tetapi ide itulah yang memilih kita. Dengan keajaibannya yang lain, ide itu kemudian beranak pinak dalam diri kita dan di sanalah karya-karya hebat siap dilahirkan. Seperti apa yang dikatakan oleh Calvin Weir-Fields dalam film Ruby Sparks pada akhir ceritanya, “The words are not coming from you but through you.”

Sesi yang berlangsung selama hampir dua setengah jam tersebut dijeda dengan coffee break yang cukup singkat, karena sama seperti saya, beberapa peserta juga sudah tidak sabar untuk melanjutkan sharing Dee Lestari hari itu. Saya mengamati dari jauh, bagaimana seorang penulis besar Indonesia berada dalam satu ruangan yang sama dengan kami-kami yang masih kroco ini untuk belajar menulis dari beliau. Mengenakan baju warna hitam dengan rambut dikuncir dan rok panjang warna biru tua membuat ibu dua anak ini terlihat anggun meskipun pada pagi itu beliau hampir sepanjang acara tidak duduk dan terus berbicara dengan bersemangat di hadapan kurang lebih 30an peserta yang hadir.

Bersama editor, penulis best seller dan penggemar.
Bersama editor, penulis best seller dan penggemar.

Saya rasa seperti inilah memang yang beliau kehendaki, di tengah para peserta yang berasal dari berbagai latar belakang, beliau menyempatkan diri untuk bercerita tentang apa saja mengenai dunia kepenulisan yang saat ini beliau tekuni. Saya duduk di sana, mengamati dari jauh, karena selain menggemari karya-karya beliau, saya rasa Dee Lestari adalah salah satu penulis wanita Indonesia yang paling dikenal saat ini. Kemudian saya melihat diri saya, merasa terlecut dengan apa yang beliau sampaikan pagi itu. Menyadari bahwa saya belum apa-apa dan menjadi lebih semangat untuk mengejar cita-cita menjadi penulis. Berapa banyak orang di dunia ini yang tidak menemukan role model dalam mengejar cita-citanya? Dan pagi itu setelah sesi yang penuh semangat dan harapan, di tengah kota Solo yang siang itu diguyur hujan, saya menemukan role model penulis saya.

 

Salam.

 

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s