Bentang dan Apa Artinya Bagi Saya

Ini adalah tulisan yang saya buat dengan ketulusan yang ikhlas dan apa adanya tentang apa yang saya rasakan dan saya alami selama saya mengenal Bentang Pustaka dan buku-buku yang diterbitkannya. Pertama kali saya mengenal ada sebuah penerbitan bernama Bentang adalah sewaktu saya menghabiskan masa sekolah SMP hingga SMA di Jogjakarta. Ketika masa itulah saya sedang giat-giatnya membaca buku sastra. Saya juga ingat betapa selama di Jogjalah hasrat saya untuk memperluas bacaan saya semakin tinggi. Dari anak SMP yang biasanya hanya membaca buku-buku komik kemudian membaca buku-buku yang lebih serius seperti buku sastra. Beberapa buku yang saya baca ketika itu mengantarkan saya pada keinginan untuk menjadi penulis sastra. Dari mulai membaca buku Seno Gumira Ajidarma sampai pada buku-buku Kahlil Gibran keluaran Bentang yang ketika itu masih bernama Bentang Budaya.

Salah satu yang mudah dikenali dari Bentang ketika itu adalah dari logonya yang menurut saya cukup memorable karena mudah diingat. Jadi ketika dulu saya berkunjung ke toko buku dan melihat di deretan  rak di toko buku Social Agency yang kadang display bukunya ditumpuk berdiri sehingga yang bisa dilihat hanya judul buku dan logo penerbit di punggung buku yang dipajang saja membuat saya mudah menemukan buku-buku terbitan Bentang Budaya. Dan ketik itu saya sedang senang-senangnya pada buku-buku Kahlil Gibran. Memang saat itu umur saya masih terbilang remaja, tetapi meskipun kadang saya tidak mengerti dengan buku-buku Kahlil Gibran saya menyukainya karena kalau cewek-cewek dulu “romantis”. Dan memang benar saja cover buku Bentang Budaya ketika itu juga lain dari pada yang lain. Karena biasanya cover dibuat dengan karya seni lainnya seperti lukisan, yang banyak sekali mewarnai cover buku Bentang ketika itu.

kematian-sebuah-bangsa images cinta keindahan kesunyian nietzsche

Saya kemudian berpikir bahwa bisa jadi karena rangkaian pengalaman menarik ketika membeli sebuah buku dan kemudian buku-buku dari penerbit tersebut begitu menarik sehingga ketika ada buku lain dengan tema berbeda pun saya tetap mencari buku dari penerbit yang sama. Hal ini terjadi ketika saya suatu hari pernah membeli buku terbitan Bentang Budaya ketika di Bandung, dan buku itu adalah sebuah buku biografi Friedrich Nietszche, dari situ juga saya mengenalinya karena buku itu adalah salah satu terbitan Bentang Budaya. Saya membeli buku itu karena saya ingin belajar mengenal dunia filsafat dan Nietszche menjadi pilihannya. Oia, buku-buku di atas adalah beberapa dari koleksi Bentang Budaya yang saya miliki.

Lantas bertahun-tahun kemudian bacaan saya berkembang ke mana-mana dan tidak terfokus pada satu penerbit. Karena ya memang sejak reformasi semakin banyak saja penerbit buku yang kemudian berdiri dan cukup berkembang. Bentang Budaya yang ketika itu mengalami fase penurunan dalam hal produksi buku membuat saya kemudian sempat lupa dengan penerbit satu ini. Barulah ketika tahu bahwa ternyata Bentang Budaya diakuisisi oleh salah satu penerbit besar lainnya dari Bandung, Mizan. Saya kemudian mulai melirik kembali buku-buku terbitan Bentang berikutnya yang lantas namanya berganti menjadi Bentang Pustaka.

Di tahun 2013 lalu saya kemudian berkesempatan menimba ilmu menulis dan mengetahui seluk beluk dunia penerbitan melalui Bentang Pustaka yang mengadakan sebuah kelas menulis bernama Akademi Bercerita. Dari sini kemudian saya bisa mengenal orang-orang di belakang layar dari setiap buku yang diterbitkan oleh Bentang Pustaka saat ini. Kemudian dari sini pulalah saya baru menyadari betapa berbedanya buku-buku yang diterbitkan oleh Bentang Budaya dulu dengan Bentang Pustaka sekarang.

Meskipun saat ini Bentang sudah mulai memperbanyak terbitan buku karya sastranya, tetapi orang mungkin lebih mengetahui Bentang Pustaka sebagai sebuah penerbitan besar yang banyak menerbitkan buku-buku populer saat ini sebut saja seperti Andrea Hirata dengan Laskar Pelangi-nya, lantas ada serial Supernova milik Dee Lestari, belum ditambah dengan berbagai macam buku mengenai travelling di mana The Naked Traveller milik Trinity menjadi primadonanya. Karena buku-buku seperti inilah kemudian saya lebih menyukai Bentang Pustaka yang ada sekarang. Terlihat bagaimana penerbit yang konon berdiri tahun 1994 ini, kemudian bertransformasi menjadi sebuah penerbitan yang berusaha menjangkau kalangan pembaca yang lebih luas lagi.

Akhir kata, kemudian saya jadi lebih banyak bergaul dan kenal dengan orang-orang hebat di Bentang Pustaka. Mas Salman Faridi sebagai CEO dan Mas Imam Ridiyanto sebagai Pemimpin Redaksi telah memberikan pelajaran menulis, pengenalan dunia penerbitan dan kadang ide-ide segar yang sekali dua kali terlontar ketika sedang dalam diskusi yang menarik. Terima kasih juga untuk Mas Solahuddin yang mengenalkan dan mengikutsertakan saya pertama kali dalam kelas Akademi Bercerita. Tak terasa sudah hampir dua tahun main bolak-balik ke Bentang Pustaka dan bertemu orang-orang kreatif di belakang layar penerbitan. Saya berharap suatu hari saya bisa menjadi salah satu penulis di Bentang Pustaka. Akan menjadi sebuah kebanggaan luar biasa bagi saya menjadi salah satu penulis dari penerbitan yang sudah sejak remaja saya kenal lewat buku-bukunya.

Dan mungkin rasanya memang seperti itu, ketika suatu pengalaman baik di masa kecil akan selalu terbawa sampai kapan pun. Hari ini Bentang Pustaka berulang tahun yang ke 11 tahun sejak pertama kali diakuisisi oleh Mizan. Sebuah angka yang menarik dan semoga penuh keberuntungan. Semoga penerbit dari Jogja ini bisa terus menerbitkan karya-karya menarik di tahun-tahun berikutnya. Saya berdoa penuh harap.

Salam.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s