Membaca Manusia Kamar

Barangkali memang benar yang dibutuhkan oleh seorang penulis untuk kelak menjadi seorang maestro dalam bidangnya hanyalah ketekunan. Hal inilah yang kemudian saya tangkap ketika membaca dua karya Seno Gumira Ajidarma, Manusia Kamar dan Negeri Kabut. Bagaimana seorang maestro sastra negeri kita ternyata telah menulis sedemikian lama, konon beliau sudah menulis ketika berumur 16 tahun. Dan bacalah karyanya ketika beliau masih begitu belia. Tidak terlihat seperti tulisan seorang anak muda bukan? Begitulah kesan yang saya tangkap ketika pertama kali membaca kumpulan cerita pendeknya dalam buku Manusia Kamar. Hampir semua cerpen dalam buku ini dibuat ketika Seno masih berusia awal dua puluhan tahun. Saya menyadari ini ketika selesai membaca cerpennya dan Seno tidak pernah lupa untuk mencantumkan tahun ketika naskah cerita tersebut dibuat.

Sekarang apa kabar penulis muda kita yang sedang berjuang untuk menjadi penulis hebat di negerinya? (ehem, saya diam-diam termasuk dalam kelompok tersebut) hal ini ternyata menimbulkan perenungan bagi saya, tentang bagaimana kesungguhan seseorang mampu mengantarkan mimpi-mimpinya menjadi nyata. Tetapi ini sekali lagi hanya jika kita memang benar-benar menginginkannya. Dalam Manusia Kamar, Seno bercerita tentang pergumulan pemikiran seorang muda yang idealis dan berusaha menolak lingkungan sekitarnya yang kemudian diceritakan melalui orang ketiga yang bertindak sebagai temannya. Seorang teman karib yang menjadi satu-satunya teman bagi si Manusia Kamar. Bagaimana Seno dalam usia yang muda tersebut menggambarkan si Manusia Kamar dengan segala macam idealismenya membuat saya kerap berpikir tentang apa yang saya lakukan ketika saya berusia di awal dua puluh tahunan. Dalam kasus cerita pendek tersebut, saya juga berpikir bahwa cerita tersebut mirip dengan kisah hidup Seno sewaktu muda yang kerap berpindah-pindah dan menolak lingkungannya sendiri.

Jadi ketika akhirnya saya menuliskan ini saya berpikir apa lagi yang membuat saya menunggu? Bukankah para penulis hebat di luar sana selalu berkata bahwa ide bukan sesuatu yang datang tiba-tiba dan membuatmu menuliskannya, tetapi kitalah yang harus menjemputnya. Seperti kebanyakan ide gila di luar sana yang bisa begitu mudah menjadi nyata, mengapa tidak memulai menangkapnya sekarang juga? Karya seperti apa yang akan kita hasilkan ketika kita beranjak tua kelak? Bagaimana kita melihat diri kita sebagai seorang yang berkarya ketika usia sudah semakin tinggi? Dan bagaimana kita melihat masa lalu ketika semuanya berawal? Apa yang akan kita rasakan ketika hal itu terlintas dalam benak kita?

Hanya kita sajalah yang tahu jawabnya.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s